Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

”Terbelenggu” Karya Ardian : Narasi Visual tentang Pikiran, Tekanan, dan Stigma Sosial

Bahana. • Rabu, 17 Desember 2025 | 04:00 WIB

Ardian Hasan Maulana, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Ardian Hasan Maulana, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
 Karya lukis Terbelenggu karya Ardian Hasan Maulana, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tampil sebagai salah satu karya yang menyita perhatian dalam pameran VeArt yang diselenggarakan oleh UPN Veteran Yogyakarta pada 2025.

Pameran ini menghadirkan ruang dialog visual bagi perupa untuk membaca dan memaknai realitas sosial dari berbagai sudut pandang budaya.

Dalam konteks tersebut, Terbelenggu hadir sebagai karya yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga relevan dengan keresahan generasi muda hari ini.

Menggunakan medium akrilik di atas kanvas berukuran 85 x 75 sentimeter, karya ini menampilkan perpaduan antara sapuan kuas yang ekspresif dipadukan dengan beberapa elemen yang memiliki detail halus.

Kontras warna cerah yang diletakkan di atas latar hitam menciptakan pusat perhatian yang kuat pada figur utama.

Penggambaran sosok manusia yang terikat, dengan kepala yang tampak pecah dan meledak, menjadi metafora visual atas kepadatan pikiran dan tekanan batin yang dialami individu dalam situasi tertentu.

 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Secara formalistik, komposisi karya disusun dalam format potret dengan penempatan figur tepat di tengah bidang kanvas, menciptakan keseimbangan pada setiap sisi tepi.

Figur manusia digambarkan sekitar sepertiga bagian tubuhdari kepala sampai setengah bahu, dengan leher terikat, sementara bagian tubuh dari leher ke bawah divisualkan seolah mencair. Kepala figur tampak terpecah dan menyebar, dikelilingi goresan huruf acak yang menyerupai tulisan kapur.

Area kepala didominasi warna-warna panas seperti merah, oranye, hijau, dan teal, dengan retakan wajah berwarna keunguan serta highlight putih yang menegaskan ekspresi tegang.

Sebaliknya, bagian leher ke bawah menggunakan palet warna dingin gelap seperti biru tua keunguan dengan highlight putih, memperkuat kesan rapuh dan melebur.

Elemen tali digarap dengan detail yang kuat, mulai dari pilinan hingga serat yang terlihat jelas, menghadirkan kesan kasar dan menekan. Campuran warna oranye sebagai sorotan, ungu muda sebagai warna dasar, serta bayangan ungu tua menciptakan ilusi visual yang membuat tali tampak keputihan ketika berpadu dengan elemen lain.

Latar hitam berfungsi menegaskan keseluruhan bentuk, sementara tanda tangan seniman diletakkan di bagian kanan bawah bidang kanvas.

Dari sisi makna, Terbelenggu merepresentasikan kondisi ketika pikiran dipenuhi imajinasi dan keinginan yang besar, namun tubuh tidak mampu menanggung beban tersebut. Ide-ide yang cemerlang kerap terhenti karena tidak adanya ruang dan kesempatan untuk disampaikan.

Keinginan untuk bebas justru berhadapan dengan berbagai bentuk pengekangan, baik yang datang dari orang tua, lingkungan sosial, maupun dari pikiran itu sendiri. Ketegangan antara kehendak dan keterbatasan inilah yang menjadi inti narasi karya.

Pesan moral yang disampaikan melalui karya ini mengajak pembaca untuk memahami pentingnya keseimbangan antara pikiran dan tubuh.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Kebebasan berpikir yang tidak terkelola dapat berujung pada tekanan fisik dan mental sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri. Namun pada saat yang sama, karya ini juga mendorong keberanian untuk menciptakan ruang dan kesempatan ketika hal tersebut tidak diberikan, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap ide dan keyakinan pribadi.

Dalam konteks sosial kekinian, Terbelenggu relevan dengan realitas yang dihadapi banyak individu, khususnya mereka yang menempuh pendidikan di bidang seni.

Berbagai stigma seperti anggapan bahwa seni tidak menjanjikan masa depan, tidak memiliki nilai ekonomi, atau akan tergantikan oleh kecerdasan buatan masih kerap muncul di ruang sosial.

Tekanan semacam ini membuat banyak individu dengan potensi dan gagasan kuat ragu dalam menentukan arah hidupnya, hingga akhirnya memilih jalan yang dianggap lebih aman dan diterima secara sosial.

Karya ini merespons kondisi tersebut dengan menampilkan situasi keterjebakan psikologis akibat tekanan dan stigma yang berkelanjutan—sebuah kondisi yang, jika dibiarkan, dapat menjadi bentuk kekerasan simbolik terhadap individu kreatif.

Sebagai catatan pengembangan, peletakan tanda tangan dapat dipertimbangkan kembali mengingat area kiri bawah komposisi masih relatif kosong dan berpotensi dimanfaatkan tanpa mengganggu keseimbangan visual.

Selain itu, eksplorasi warna yang lebih vibran pada beberapa bagian dapat memperkuat penonjolan bentuk. Meskipun penggunaan warna kusam berhasil membangun suasana muram dan tertekan, pada beberapa area warna tersebut cenderung menyatu dengan latar sehingga detail visual kurang menonjol.

 

Ditulis oleh Dilla Rahma Noor Aini Mahasiswa ISI Surakarta untuk mengapresiasi karya seni dalam bentuk ulasan.

 

 

 

Editor : Bahana.
#uin sunan kalijaga #lukisan