Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Cancel Culture di Media Sosial: Tegas atau Terlalu Kejam?

Bahana. • Rabu, 17 Desember 2025 | 22:31 WIB

Photo
Photo
Media sosial membuat reaksi publik bekerja dengan sangat cepat. Satu unggahan, satu potongan pernyataan, atau jejak digital masa lalu bisa memicu gelombang kecaman dalam hitungan jam.

Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai cancel culture, sebuah bentuk penghukuman sosial yang dilakukan secara massal di ruang digital.

Cancel culture kerap dianggap sebagai wujud ketegasan publik. Melalui media sosial, masyarakat merasa memiliki ruang untuk menuntut tanggung jawab atas tindakan yang dinilai melanggar nilai moral, etika, atau keadilan.

Dalam beberapa kasus, tekanan publik bahkan mampu mendorong klarifikasi, permintaan maaf, hingga perubahan sikap dari pihak yang dikritik.

Namun, persoalan muncul ketika cancel culture berjalan tanpa batas. Tidak semua kecaman disertai fakta yang utuh atau ruang klarifikasi yang adil.

Penghakiman sering kali dilakukan secara emosional dan beramai-ramai, dipicu oleh potongan informasi yang viral.

Media sosial, dengan algoritmanya, cenderung mempercepat penyebaran kemarahan karena emosi negatif lebih mudah menarik perhatian.

Di titik ini, cancel culture mulai bergeser dari kritik menjadi persekusi digital. Kritik seharusnya bertujuan untuk memperbaiki dan mendorong tanggung jawab, bukan menghapus seseorang sepenuhnya dari ruang sosial.

Sayangnya, dalam praktiknya, cancel culture sering berujung pada stigma berkepanjangan, tekanan mental, hingga hilangnya kesempatan hidup, bahkan setelah permintaan maaf disampaikan.

Fenomena ini juga memperlihatkan perilaku pengguna media sosial, khususnya generasi muda, yang kerap terjebak dalam budaya ikut arus.

Banyak orang merasa perlu mengambil posisi agar tidak dianggap abai atau berbeda dari mayoritas. Akibatnya, proses berpikir kritis sering kali kalah oleh dorongan untuk menjadi bagian dari keramaian.

Cancel culture pada akhirnya bukan soal benar atau salah secara mutlak. Ketegasan sosial memang diperlukan, tetapi empati dan proporsionalitas juga tak boleh ditinggalkan.

Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berdiskusi dan belajar, bukan sekadar arena penghukuman.

Di tengah derasnya opini publik, sikap kritis yang manusiawi menjadi kunci agar keadilan tidak berubah menjadi kekerasan digital.


Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#cancel culture