Meski sering dipakai secara bergantian di percakapan sehari‑hari, perbedaan antara kedua istilah ini penting untuk dipahami agar kita bisa mengenali pola hubungan yang tidak sehat.
Gaslighting adalah bentuk manipulasi yang halus namun berbahaya. Pelaku gaslighting berusaha membuat orang lain meragukan persepsi, ingatan, atau penilaian dirinya sendiri.
Teknik ini biasanya dilakukan secara bertahap dan konsisten, dimulai dari penyangkalan kejadian yang jelas, pembelokan fakta, hingga membuat korban merasa “terlalu sensitif” atau salah menafsirkan sesuatu.
Tujuan gaslighting adalah mengendalikan persepsi korban sehingga ia bergantung pada pelaku dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.
Di sisi lain, playing victim adalah strategi di mana seseorang berperan seolah‑olah menjadi korban dengan maksud menarik simpati atau menghindari tanggung jawab.
Pelaku playing victim sering kali menyalahkan orang lain, membesar‑besarkan penderitaan diri sendiri, atau berusaha memutarbalikkan situasi supaya terlihat seperti pihak yang dirugikan meski faktanya tidak sepenuhnya demikian.
Perilaku ini bisa muncul dalam berbagai konteks, mulai dari pertemanan, keluarga, hingga lingkungan kerja.
Perbedaan utamanya ada pada bagaimana manipulasi itu bekerja dan apa dampaknya terhadap orang lain.
Pada gaslighting, pelaku mencoba mengikis realitas dan kepercayaan diri korban, membuat korban mempertanyakan memori atau pandangan dirinya sendiri ini adalah bentuk manipulasi psikologis yang bisa menyebabkan kebingungan dan rasa tidak berdaya pada korban.
Sementara itu, playing victim lebih berkaitan dengan memanfaatkan peran sebagai “korban” untuk mendapatkan perhatian, dukungan, atau pembenaran.
Pelaku sering menempatkan dirinya di posisi tidak bersalah dan memanfaatkan simpati orang lain untuk menghindari konsekuensi dari perbuatannya.
Kedua taktik ini bisa saling tumpang tindih. Misalnya, seseorang yang melakukan gaslighting bisa juga bermain sebagai korban ketika tindakannya dikritik, dengan cara membalikkan situasi agar orang lain merasa bersalah karena menuduhnya.
Ini membuat pembedaannya semakin kompleks karena korban maupun pihak luar bisa bingung menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Dalam praktiknya, gaslighting cenderung berfokus pada pengaruh jangka panjang terhadap persepsi dan harga diri korban, sedangkan playing victim lebih bersifat strategi sementara untuk mengubah cara pandang orang terhadap pelaku dan situasi tertentu.
Keduanya bisa muncul di hubungan yang dekat, seperti pasangan, keluarga, atau rekan kerja, dan sama‑sama dapat merusak komunikasi, kepercayaan, serta kesejahteraan emosional.
Mengenali perbedaan ini bukan sekadar soal istilah psikologi semata, tetapi juga tentang memahami pola dinamika yang dapat memengaruhi kesehatan mental.
Dengan mengenali tanda‑tandanya, kita bisa lebih bijak dalam membaca situasi interpersonal dan melindungi diri dari pola hubungan yang manipulatif.
Writer Naela Alfi Syahra