Vitamin D3 bisa didapat secara alami melalui sinar matahari yang terkena tubuh saat berjemur di pagi hari, atau dari mengonsumsi makanan tertentu.
Namun, sekarang ini suplemen vitamin D3 semakin banyak dijual di toko-toko. Jika vitamin D3 bisa didapat dari sumber alami seperti sinar matahari dan makanan, apakah tetap perlu mengonsumsi suplemen vitamin D3?
“Dengan adanya teknologi obat-obatan, teknologi pangan, sekarang bisa diciptakan suplemen vitamin D3 dalam dosis tinggi, yang lebih memudahkan manusia untuk mencukupi kebutuhan vitamin-vitaminnya,” kata dr. Daniel Petrus Marpaung, SpOT (K).
Dokter ortopedi di Siloam Hospitals Kebon Jeruk mengatakan, meskipun Indonesia adalah negara tropis, tetapi masyarakat Indonesia memiliki tingkat vitamin D3 yang tergolong rendah.
Menurut dr. Daniel, kadar vitamin D3 di masyarakat Indonesia cukup rendah karena banyak orang takut terkena sinar matahari dengan alasan kesehatan kulit.
Jadi, mengonsumsi suplemen vitamin D3 boleh dilakukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D3 sehari-hari.
Namun, penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk yang tertera di kemasan.
Vitamin D3 atau cholecalciferol adalah salah satu dari dua jenis utama vitamin D, yaitu jenis lainnya adalah vitamin D2 atau ergocalciferol.
Secara umum, vitamin D berguna untuk kesehatan tulang dan gigi. Vitamin D membantu tulang dan gigi tumbuh dengan cara yang sehat dan kuat.
Tidak hanya itu, vitamin D juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh karena mendukung pekerjaan sel darah putih dalam melawan penyebab penyakit.
Vitamin D memiliki sifat anti-radang dan antioksidan, sehingga bisa memperbaiki fungsi sistem imun, saraf, dan otot.
Bagi orang yang khawatir tentang kesehatan paru dan jantung, vitamin D juga berguna untuk dua organ tersebut.
Karena kurang vitamin D bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan paru.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.