Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Benarkah Sering Keramas Membuat Rambut Rontok? Ini Penjelasan Ahli

Bahana. • Kamis, 18 Desember 2025 | 20:47 WIB
ilustrasi keramas (pinterest)
ilustrasi keramas (pinterest)

Seringkali muncul anggapan bahwa keramas terlalu sering bisa menyebabkan rambut rontok. Banyak orang percaya bahwa semakin sering kita membasuh rambut, semakin banyak pula rambut yang lepas bahkan sampai membuat kulit kepala botak.

Persepsi ini ternyata tidak sepenuhnya benar jika dilihat dari sudut pandang medis dan fisiologi pertumbuhan rambut.

Rontoknya rambut pada saat keramas sebenarnya adalah fenomena yang umum dialami banyak orang.

Dalam satu hari, manusia normal bisa kehilangan sekitar 50–100 helai rambut sebagai bagian dari siklus alami rambut.

Rambut manusia memiliki fase pertumbuhan, fase transisi, dan fase istirahat. Saat fase istirahat berakhir, rambut akan terlepas dan diganti dengan rambut baru dan momen keramas adalah saat yang paling terlihat karena rambut yang terlepas ikut terbawa air dan sampo saat dibilas.

Keramas sendiri tidak langsung menjadi penyebab utama rambut rontok. Rambut yang rontok saat mencuci umumnya merupakan rambut yang memang sudah siap lepas dari fase siklusnya.

Artinya, rambut itu sudah ‘mati’ alami dan hanya menunggu waktu untuk turun dari kulit kepala. Proses keramas hanya memperlihatkan rambut yang lepas tersebut.

Namun, ada beberapa kebiasaan atau kondisi yang bisa membuat rambut tampak lebih rontok saat keramas jika tidak ditangani dengan tepat.

Misalnya, ketika seseorang menggosok rambut atau kulit kepala terlalu keras, ini bisa menyebabkan kerusakan pada batang rambut dan membuat rambut rapuh serta mudah patah.

Begitu pula keramas menggunakan air yang terlalu panas bisa mengeringkan rambut dan kulit kepala sehingga menimbulkan kelemahan rambut.

Penggunaan produk perawatan yang kurang tepat juga bisa berkontribusi pada kerontokan yang tampak lebih serius.

Sampo yang tidak sesuai dengan jenis rambut atau kulit kepala dalam jangka panjang bisa menyebabkan iritasi, kering, atau bahkan gangguan minyak berlebih.

Jika kulit kepala menjadi bermasalah seperti sangat berminyak, berketombe, atau iritasi rambut bisa lebih mudah rontok karena lingkungan kulit kepala tidak ideal untuk menjaga akar rambut.

Selain itu, kerontokan yang serius tidak selalu berasal dari kebiasaan keramas atau frekuensi mencuci rambut.

Banyak faktor internal seperti stres berat, kekurangan nutrisi tertentu (misalnya zat besi, protein, atau vitamin), perubahan hormon, atau kondisi medis juga bisa menyebabkan rambut rontok lebih banyak dari biasanya.

Jika kerontokan terjadi secara terus-menerus dan jumlah rambut yang rontok mulai melebihi kisaran normal, ini bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih dalam dan sebaiknya dikonsultasikan ke dokter spesialis kulit atau trichologist.

Satu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa frekuensi keramas ideal berbeda untuk setiap orang. Beberapa orang dengan kulit kepala berminyak mungkin perlu keramas lebih sering untuk mengurangi penumpukan minyak yang bisa menghambat pertumbuhan rambut.

Sedangkan orang dengan rambut yang lebih kering cenderung membutuhkan keramas yang lebih jarang agar minyak alami yang dibutuhkan rambut tidak hilang terlalu banyak.

Faktor aktivitas harian, cuaca, dan gaya hidup juga memengaruhi seberapa sering rambut perlu dicuci.

Jadi, kesimpulannya: keramas itu sendiri bukanlah penyebab langsung rambut rontok secara permanen.

Rambut yang rontok saat keramas biasanya merupakan rambut yang memang sudah dalam fase akhir siklusnya, bukan rambut yang “dipaksa rontok” oleh keramas itu sendiri.

Masalah justru lebih sering muncul ketika cara keramas atau produk yang dipakai tidak cocok dengan kondisi rambut dan kulit kepala.

Dengan perawatan yang tepat dan kebiasaan yang baik, keramas dapat membantu menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala bukan membuatnya rontok.

Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#rambut rontok #keramas