Namun, kemudahan tersebut ternyata menyimpan risiko yang lebih dalam dari sekadar utang finansial yaitu risiko kecanduan dan masalah psikologis yang menyertainya.
Kemudahan akses pinjol membuat seseorang sering kali tergoda untuk meminjam meskipun sebenarnya tidak benar-benar memerlukan uang darurat.
Alur pengajuan yang cepat dan pencairan dana yang hampir instan membuat proses pinjaman terasa “tidak berisiko” pada awalnya.
Efek ini mirip dengan perilaku konsumtif: saat kebutuhan emosional atau psikologis muncul, pinjol tampak seperti cara cepat untuk mendapatkan rasa lega sesaat dari tekanan finansial.
Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi menjelaskan bahwa kecanduan pinjol kerap berawal dari mekanisme coping yang keliru.
Saat seseorang mengalami stres, tekanan hidup, atau masalah keuangan, pinjol dijadikan jalan pintas untuk menghindari rasa tidak nyaman tersebut, bukan menyelesaikan akar masalahnya.
Menurut Meity, perilaku ini berkaitan erat dengan impulsivitas dan kontrol diri yang rendah. Ketika pinjaman bisa diakses dengan mudah tanpa proses panjang, individu cenderung mengambil keputusan secara spontan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
“Rasa lega setelah dana cair membuat otak membentuk pola pengulangan, sehingga seseorang terdorong untuk kembali meminjam saat menghadapi masalah serupa,” jelasnya.
Meity juga menyoroti bahwa kurangnya literasi finansial memperparah kondisi tersebut. Banyak orang tidak benar-benar memahami bunga, denda keterlambatan, serta konsekuensi psikologis dari utang yang menumpuk.
Akibatnya, keputusan meminjam berubah dari tindakan rasional menjadi respons emosional terhadap tekanan situasi.
Faktor sosial turut memengaruhi kecanduan pinjol. Dorongan gaya hidup, tuntutan sosial, hingga fenomena fear of missing out (FOMO) membuat seseorang merasa harus tetap mengikuti standar tertentu, meskipun kemampuan finansialnya terbatas.
Dalam kondisi ini, pinjol sering dianggap sebagai solusi tercepat untuk menutup kesenjangan antara keinginan dan kemampuan.
Dampak kecanduan pinjol tidak hanya terasa secara finansial, tetapi juga psikologis. Utang yang menumpuk dapat memicu kecemasan berlebih, gangguan tidur, stres kronis, hingga menurunnya rasa percaya diri.
Meity mengingatkan bahwa tekanan mental akibat utang yang tidak terkendali dapat menciptakan lingkaran masalah yang semakin sulit dihentikan jika tidak disadari sejak awal.
Karena itu, Meity Arianty menekankan pentingnya membangun kesadaran diri, pengelolaan emosi, dan perencanaan keuangan yang sehat.
Pinjol seharusnya diposisikan sebagai alternatif terakhir dalam kondisi darurat, bukan solusi utama setiap kali menghadapi tekanan hidup.
Dengan memahami faktor psikologis di balik kecanduan pinjol, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Kesadaran bahwa masalah keuangan sering kali berkaitan dengan kondisi emosional menjadi langkah awal untuk terhindar dari jeratan utang yang berkepanjangan.
Writer Naela Alfi Syahra