Media sosial kembali diramaikan oleh tren “at least…” yang populer di TikTok. Tren ini menampilkan video dua orang atau lebih yang saling bakar atau roasting.
Meski banyak dianggap lucu dan menghibur, tren ini juga memunculkan berbagai respons.
Sejumlah kreator dan warganet menilai bahwa penggunaan “at least…” tidak selalu berdampak positif, karena dalam beberapa konteks dapat menjurus pada pengungkapan aib atau hal memalukan pihak lain.
Secara bahasa “at least…” berarti “setidaknya”. Dalam praktiknya di TikTok, ungkapan ini menjadi challenge video di mana dua orang saling berbicara langsung dengan format “at least aku nggak kayak kamu yang...” atau “at least aku nggak pernah…” untuk saling roasting satu sama lain.
Biasanya dilakukan antara teman dekat, pasangan, atau saudara dengan nada bercanda tapi kadang cukup brutal.
Kesederhanaan format inilah yang membuat tren ini mudah ditiru dan cepat menyebar di kalangan anak muda.
Pengaruh Positif
Tren ini bisa menjadi sarana hiburan dan bounding. Banyak pengguna yang menggunakan challenge ini sebagai quality time bersama teman atau pasangan. Tren ini melatih spontanitas dan kreativitas.
Peserta harus berpikir cepat untuk meroasting kembali lawan bicaranya. Hal ini melatih kepekaan membaca situasi dan mengetahui batasan dalam bercanda.
Banyak orang yang merasa terhibur melihat drama dan roasting, apalagi kalau dialognya memang lucu dan relatable.
Pengaruh Negatif: Antara Humor dan Mengumbar Aib
Tidak sedikit yang menyoroti sisi gelap dari tren ini. Beberapa content creator menilai bahwa tren “at least…” berpotensi berubah dari humor menjadi bentuk toxic yang berbahaya. Masalah utama dari tren ini adalah potensi mengumbar aib orang lain ke publik.
Dalam banyak video, ungkapan “at least…” digunakan untuk membongkar hal pribadi, kesalahan masa lalu, atau kebiasaan buruk seseorang secara langsung di depan kamera.
Yang awalnya rahasia atau hanya diketahui oleh orang terdekat, kini tersebar luas di TikTok dan bisa dilihat jutaan orang.
Tren ini juga memperkuat budaya saling membandingkan diri dengan orang lain secara tidak sehat.
Pola pikir “aku lebih baik karena kamu lebih jelek” menjadi terlihat normal. Alih-alih reflektif atau saling support, konten bergeser menjadi ajang merasa superior dengan merendahkan orang lain.
Apa yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain.
Dalam konteks tertentu, tren ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang mendalam, terutama jika melibatkan pengalaman traumatis, insecurity, atau kelemahan personal seseorang.
Tren ini juga berpotensi jadi bullying terselubung. Body shaming, slut shaming, atau diskriminasi bisa dibungkus sebagai jokes dalam format “at least”. Korban merasa tertekan tapi tidak bisa protes karena konteksnya adalah konten lucu
Fenomena yang Perlu Disikapi dengan Baik
Tren “at least…” menunjukkan bagaimana satu format sederhana bisa memiliki makna dan dampak yang beragam di media sosial.
Di satu sisi, ia menjadi simbol kreativitas konten dan hiburan digital yang relatable.
Di sisi lain, tren ini juga mengingatkan bahwa tidak semua konten viral bersifat netral atau aman bagi semua pihak yang terlibat.
Fenomena ini menjadi refleksi penting bahwa dalam budaya digital, humor dan etika sering berjalan beriringan.
Privasi dan kepercayaan lebih berharga daripada views atau likes. Viral itu sementara, tapi kepercayaan dan persahabatan itu permanen.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.