Lahir pada 20 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Pramoedya merupakan anak sulung dari pasangan M. Toer dan Siti Saidah.
Ayahnya bekerja sebagai guru sedangkan ibunya adalah anak penghulu di Rembang.
Setelah menempuh pendidikan sekolah dasarnya di Institut Boedi Oetomo, Pramoedya melanjutkan pendidikannya di sekolah teknik radio Surabaya.
Ia pergi ke Jakarta dan bekerja di kantor berita Domei sambil mengikuti pendidikan taman siswa, kursus sekolah stenografi, dan melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta.
Pada tahun 1958, Pramoedya bergabung ke dalam organisasi Lembaga Kesenin Rakyat (Lekta) yang saat itu berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sejak bergabung, gaya penulisan sastrawan ini berubah yang berakhir menciptakan friksi antara Pramoedya dan pemerintahan Soekarno.
Tahun 1965, penangkapan Pramoedya dilakukan akibat gerakan 30 September yang membuatnya diasingkan selama 10 tahun dan berpindah penjara berkali-kali di Salemba, Cilacap, hingga Pulau Buru.
Selama pengasingan, Pramoedya tetap menulis hingga mencipakan banyak karya, salah satunya adalah Bumi Manusia.
Pramoedya dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan pada 21 Desember 1979, tetapi masih ditetapkan sebagai tahanan tumah selama kurang lebih dua tahun. Sastrawan ini tutup usia pada tahun 2006 di Jakarta.
Rekomendasi novel-novel terkenal karya Pramoedya Ananta Toer yang wajib dibaca
1. Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Empat karya yang diciptakan dalam pengasingannya di Pulau Buru, tertralogi ini mengisahkan tentang perjalanan hidup Minke, seorang pribumi anak bupati yang memperoleh pendidikan, dalam melawan kolonialisme Belanda. Karakter Minke ini merupakan nama samaran dari tokoh pres bernama Raden Tirto Adhi Soerjo.
2. Arus Balik
Menceritakan tentang kedatangan Portugis di Nusantara dengan latar abad ke-16 ketika pengaruh Majapahit sudah tidak sekuat dulu dan Kesultanan Demak menggantikan.
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Wiranggaleng, seorang pemuda desa yang ikut berjuang dalam melawan invasi Portugis.
3. Mangir
Menceritakan kisah ambisius raja Mataram dalam menguasai tanah Jawa. Mangir sering kali diserang oleh pasukan tapi berkali-kali pula Mataran gagal menaklukkannya. Maka muncul siasat licik raja untuk mengirim putrinya menundukkan panglima Mangir. Uniknya, novel ini ditulis dalam bentuk naskah drama.
4. Gadis Pantai
Menceritakan tentang seorang gadis desa yang dipaksa menjadi selir priyayi Jawa.
Novel ini terdiri dari lima babak yaitu si gadis meninggalkan kampung, si gadis beradaptasi di rumah bendoro si gadis menjadi istri bendoro, si gadis mengunjungi orang tuanya, dan si gadis diceraikan.
Penulis: Hanifah Fajri Nurhikmah
Editor : Bahana.