Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Zine, Medium Kecil yang Merawat Ingatan Budaya Alternatif

Bahana. • Selasa, 13 Januari 2026 | 19:05 WIB

Salah Satu Zine yang Bercerita Tentang Indonesian Hardcore - Instagram / @altereshgo
Salah Satu Zine yang Bercerita Tentang Indonesian Hardcore - Instagram / @altereshgo
Di tengah derasnya arus informasi digital, zine tetap bertahan sebagai medium kecil yang merekam cerita dari pinggir.

Dicetak mandiri dan beredar terbatas, zine lahir dari kebutuhan komunitas untuk mendokumentasikan pengalaman, musik, hingga kultur yang jarang terekam media arus utama.

Dalam artikel Jalan Panjang Zine di Berbagai Kancah yang dimuat Roc in Celebes, zine dipahami bukan hanya sebagai publikasi murah bersirkulasi kecil, melainkan sebagai produk komunitas yang membedakannya dari media independen lain seperti komik atau jurnal sastra.

Apa itu Zine dan Kenapa Disebut “Zine”?

Zine (dibaca zeen) adalah publikasi kecil, mandiri, dan independen. Biasanya dibuat secara do-it-yourself (DIY), dengan jumlah terbatas, bahkan ada dibagikan gratis.

Zine menjadi ruang ekspresi komunitas, membahas musik, film, seni, olahraga, politik, dan kehidupan sehari-hari yang jarang tercatat media arus utama.

Nama “zine” berasal dari singkatan fanzine, gabungan kata fan dan magazine. Istilah ini pertama kali dipopulerkan pada 1940 oleh penggemar fiksi ilmiah untuk membedakan publikasi buatan penggemar dari majalah profesional.

Seiring waktu, “zine” berkembang menjadi istilah umum bagi semua publikasi kecil, independen, dan berbasis komunitas.

Jejak Zine dari Fiksi Ilmiah ke Komunitas Lainnya

Sejarah zine bermula di Amerika Serikat pada 1930-an dengan terbitnya The Comet oleh Science Correspondence Club, awalnya menampilkan fiksi ilmiah dan awal adanya fanzine.

Kemudian tema zine berkembang luas, termasuk fantasi sci-fi dengan Fantasy Commentator sejak 1943, hingga era punk di tahun 1970-an.

Adanya inovasi mesin fotokopi membuat produksi zine lebih murah dan cepat. Pada dekade 70-an hingga 80-an, zine punk berkembang di London, Los Angeles, dan New York.

Publikasi seperti Slash dan Sniffin’ Glue merekam cerita band-band punk seperti The Clash, The Ramones, dan Joy Division, lengkap dengan wawancara, ulasan konser, dan ilustrasi khas estetika DIY.

Zine juga tidak hanya merekam musik, tapi juga komunitas lain, seperti komunitas suporter sepak bola.

Zine suporter berisi pengalaman tandang, cerita tribun, dan refleksi personal tentang klub. Cerita-cerita ini jarang muncul dalam laporan resmi, tetapi menjadi arsip budaya alternatif yang penting.

Dari Bacaan Pribadi ke Arsip Budaya

Koleksi zine kini menjadi arsip pribadi yang merekam fase hidup seseorang, musik yang didengar, komunitas yang diikuti, atau peristiwa yang dialami.

Di Indonesia, zine mulai muncul sekitar pertengahan 1990-an. Di Bandung, Revograms memuat informasi musik underground, sementara Brainwashed di Jakarta fokus pada band metal dan hardcore.

Hingga kini, zine tetap hidup di berbagai komunitas, berkembang bersama kolektif, dan dirayakan lewat festival rutin di kota besar maupun kecil.

Zine kini menjadi medium kecil agar ingatannya tetap bertahan. Di era informasi cepat, zine melaju sendiri. Ia tidak mengejar tren, tapi malah menjaga cerita agar tidak hilang dan menjadi arsip budaya alternatif yang nyata dan bertahan lama.

Penulis: Kinesha Puspa Adilla

Editor : Bahana.
#Zine #medium