RADAR MALIOBORO - Gaya hidup serba cepat selama ini identik dengan generasi muda. Target harus tercapai, notifikasi tak pernah berhenti, dan waktu terasa selalu kurang. Namun, di tengah ritme yang padat itu, muncul satu tren yang justru berjalan berlawanan arah: slow living.
Belakangan ini, semakin banyak anak muda yang mulai memilih hidup lebih pelan. Mereka mengurangi aktivitas yang melelahkan, menata ulang prioritas, dan tidak lagi memaksakan diri untuk selalu produktif setiap waktu.
Tren ini dikenal sebagai slow living. Sebuah pola hidup yang menekankan kesadaran, keseimbangan, dan ketenangan.
Bagi sebagian orang, slow living mungkin terlihat seperti gaya hidup estetik yang sering muncul di media sosial. Namun bagi banyak anak muda, tren ini justru lahir dari rasa lelah.
Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, hingga perbandingan hidup di dunia digital membuat banyak dari mereka merasa kehabisan energi, baik secara fisik maupun mental.
Dengan menerapkan slow living, anak muda mulai belajar berkata “cukup”.
Cukup bekerja sesuai kapasitas, cukup bersosialisasi tanpa harus memaksakan diri, dan cukup menikmati hal-hal sederhana seperti memasak sendiri, membaca buku, atau sekadar beristirahat tanpa rasa bersalah.
Tren ini juga mendorong perubahan cara pandang terhadap kesuksesan. Jika sebelumnya sukses identik dengan kesibukan dan pencapaian yang terlihat, kini sebagian anak muda mulai menilai keberhasilan dari ketenangan hidup dan kesehatan mental yang terjaga.
Meski begitu, slow living bukan berarti bermalas-malasan atau menghindari tanggung jawab. Justru sebaliknya, gaya hidup ini mengajarkan untuk lebih sadar dalam mengambil keputusan, mengelola waktu dengan bijak, dan menjalani hidup sesuai kebutuhan, bukan tuntutan.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, slow living bagi anak muda tampaknya bukan sekadar tren sesaat.
Bagi banyak dari mereka, ini menjadi cara bertahan sekaligus upaya menjaga diri agar tidak terseret kelelahan berkepanjangan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Cari Kerja, Ini 3 Pondasi Tujuan Pendidikan Menurut Prof. Damayanti
Hidup pelan bukan berarti tertinggal. Bagi generasi muda saat ini, melambat justru menjadi langkah untuk hidup lebih sehat, lebih sadar, dan lebih bermakna.
(Aribah Zalfa Nur Aini)
Editor : Iwa Ikhwanudin