YOGYAKARTA – Budaya minum jamu bukan sekadar warisan tradisi, melainkan pilar penting dalam menjaga kebugaran dan mencegah berbagai penyakit kronis di masyarakat. Manfaat besar ini mengemuka dalam Gerakan Minum Jamu Serentak yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Dewan Jamu Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Senin (25/5).
Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, FINASIM, menegaskan bahwa konsumsi jamu secara rutin merupakan langkah preventif yang efektif melawan berbagai penyakit modern. Menurutnya, penyakit seperti diabetes, asam urat, hipertensi, hingga kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang didukung oleh konsumsi jamu.
“Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke rumah sakit. Yang paling penting adalah pencegahan di masyarakat. Jamu memiliki posisi strategis untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit. Karena itu, budaya minum jamu harus terus diperkuat,” ujar Prof. Nyoman.
Baca Juga: Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Diluncurkan, Rekam Perjuangan Panjang Sebelum Reformasi 1998
Prof. Nyoman juga menyayangkan ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku obat kimia, padahal bumi nusantara menyimpan kekayaan herbal lokal yang melimpah. Jika potensi tanaman obat di sekitar kita dioptimalkan, manfaat jamu tidak hanya dirasakan bagi kesehatan tubuh, tetapi juga berdampak positif pada perputaran ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menceritakan pengalamannya merasakan langsung manfaat jamu sejak kecil, salah satunya untuk meningkatkan nafsu makan. Pengalaman personal ini membuktikan bahwa jamu telah menjadi bagian dari solusi kesehatan harian masyarakat sejak lama.
"Jamu bukan sekadar urusan laboratorium atau penelitian medis, melainkan warisan budaya yang hidup. Indonesia punya kekayaan biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversity yang menjadi fondasi kuat perkembangan budaya sehat ini," jelas Danang.
Baca Juga: Westlife Gelar Konser di GBK Januari 2027, Penjualan Tiket Sudah Dibuka
Guna memastikan manfaat jamu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, UGM menggerakkan kolaborasi lintas disiplin dari berbagai fakultas, mulai dari Fakultas Farmasi, Kedokteran (FK-KMK), Ilmu Budaya, Pertanian, hingga Teknologi Pertanian. Sinergi ini bertujuan untuk melakukan standardisasi riset agar jamu semakin dipercaya dan aman dikonsumsi secara luas.
“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat. Karena itu, diperlukan riset yang kuat, standardisasi, hingga advokasi kebijakan,” pungkas Danang.
Gerakan perayaan Hari Jamu Nasional 2026 ini berlangsung meriah dengan diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan sivitas akademika, tenaga kesehatan, komunitas jamu, hingga masyarakat umum yang kompak mengenakan pakaian adat tradisional.
Editor : Heru Pratomo