Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Doom Scrolling Gen-Z: Dari Video Pendek Berujung Self-Labeling

Esty Destina Rahmadhani • Senin, 8 Juni 2026 | 15:28 WIB
Fenomena doom scrolling memicu self-labeling pada Gen-Z (Sumber: Pinterest)
Fenomena doom scrolling memicu self-labeling pada Gen-Z (Sumber: Pinterest)

 
 
RADAR MALIOBORO - Bagi generasi Z (Gen-Z), video instan bukan sekadar hiburan di saat senggang, hal ini merupakan bagian dari gaya hidup.

Namun, di balik algoritma yang super pintar ini, ada fenomena psikologis berupa self-labeling atau melabeli diri sendiri. 

Biasanya jika anda berniat membuka TikTok atau Instagram Reels hanya lima menit, tetapi ternyata dua jam telah berlalu.

Anda ternyata juga merasa relate dengan video tersebut sebagai bagian dari sisi psikologi manusia. 

Baca Juga: Formula Rahasia Ini yang Membuat Tom Lembong Tetap Memikat dan Berwibawa meski Diserang dari Segala Arah


Algoritma yang berubah menjadi cermin


Video pendek bekerja lewat algoritma yang bisa saja sangat personal.

Jika anda berhenti di beberapa detik lebih lama mengenai insecure, esok hari beranda anda akan dipenuhi konten serupa.


Bagi Gen-Z, hal ini menciptakan efek cermin. Algoritma tersebut memahami ruang privat di otak mereka.

Akibatnya, konten mulai dianggap sebagai refleksi dari validasi psikologis mereka. 


Jembatan instan menuju Self-Diagnosis


Dulunya untuk mengetahui seseorang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), mereka harus membaca literatur berat atau pergi ke psikolog.

Sekarang, semua itu dirangkum dalam video TikTok berdurasi 30 detik dengan poin-poin yang interaktif.


Misalnya saja seperti "3 Tanda Kamu Seorang Introvert Garis Keras" atau "Ciri-ciri Kalau Kamu Mengalami Childhood Trauma".

Baca Juga: Rupiah Terus Merosot, Per Hari Ini Dolar Sentuh Angka di Atas Rp18.100 

Narasi yang terlalu disederhanakan membuat Gen-Z mudah mencocokkan gejala dalam hidup mereka dengan label-label psikologis besar.
Mengapa Gen-Z suka melabeli diri?


Self-labeling lewat video instan tidak muncul begitu saja. Ada beberapa alasan kuat di baliknya.


1. Pencarian Identitas yang Cepat

Gen-Z tumbuh di era serba instan. Menemukan hal instan lewat label psikologis yang ada di internet terasa lebih cepat.


2. Rasa Memiliki 

Menemukan label tertentu membuat mereka merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas yang sama seperti orang lain.

Baca Juga: Hari Laut Sedunia 2026: Tema Reimagine Aja Masyarakat Mengubah Cara Pandang dan Merawat Lautan


3. Alat Validasi Rasa Sakit

Label medis sering kali digunakan sebagai tameng atau penjelasan logis atas kegagalan yang mereka alami sehari-hari.


Meningkatnya kesadaran Gen-Z terhadap kesehatan mental berkat video pendek adalah hal yang positif.

Mereka menjadi generasi yang paling terbuka dan tidak tabu membicarakan isu psikologis.


Namun, mengurung diri dalam label yang dibuat oleh konten kreator di media sosial adalah jebakan Batman.

 Ingat bahwa konten video instan dirancang untuk mendulang views dan engagement, bukan untuk menggantikan diagnosis klinis. 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Doom Scrolling #Self-Labeling #video pendek #adhd #Gen-Z