RADAR MALIOBORO - Di era saat ini, lini masa media sosial banyak anak usia SD atau awal SMP membuat video berkaitan tentang produk perawatan kulit.
Dimulai dari serum, toner, hingga krim antipenuaan.
Fenomena ini bukan lagi sekadar aksi meniru saja, melainkan tren mengkhawatirkan yang mempunyai istilah resmi yaitu cosmeticorexia.
Meskipun istilah ini belum menjadi diagnosis medi formal, para ahli kesehatan kulit dan psikolog mulai menggunakannya untuk menggambarkan perilaku obsesif terhadap produk kecantikan.
Baca Juga: Mengenal Inde Navarrette, Bintang Film "Obsession" yang Ternyata Mantan Streamer Game Populer!
Secara sederhana, cosmeticorexia adalah kondisi seseorang merasa cemas, tidak percaya diri, atau memiliki obsesi berlebihan untuk mendapatkan kulit yang sempurna melalui penggunaan kosmetik dan skincare.
Istilah ini mencuat setelah para pakar, salah satunya Profesor Giovanni Damiani dari University of Milan, Italia, mengamati adanya perubahan perilaku yang tidak biasa pada pasien mudanya.
Anak-anak usia 8 hingga 14 tahun menggunakan sampai 10 produk perawatan kulit setiap hari.
Bahkan, beberapa di antaranya enggan keluar rumah bila tidak memakai riasan wajah.
Baca Juga: Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Hadirkan Pembelajaran Interaktif di SD Model Sleman
Alasan kuat anak-anak zaman sekarang begitu terobsesi dengan botol-botol serum dikarenakan adanya gawai dan algoritma media sosial.
1. Paparan konten tanpa filter
Melalui platform video pendek, anak-anak dengan mudah menyaksikan orang dewasa memamerkan rutinitas perawatan wajah.
2. Krisis kepercayaan diri
Industri kecantikan perlahan mulai menggeser target pasarnya. Kini kecemasan berupa kerutan harus dicegah juga disasarkan pada remaja dan membuat mereka merasa kulit masih terdapat kekurangan.
3. Efek FOMO (Fear of Missing Out)
Keinginan untuk diakui di lingkungan pergaulan membuat anak-anak merasa wajib memiliki produk yang sedang viral, terlepas dari kulit mereka yang cenderung sehat.
Baca Juga: Keren! Agnez Mo Resmi Jadi Pengisi Suara Film Animasi Hollywood "Groove Tails" Bersama Halle Bailey
Dampak Buruk bagi Kulit dan Mental Anak
Secara alami, kulit anak-anak dan remaja sebenarnya berada dalam kondisi terbaiknya.
Proses regenerasi sel kulit mereka masih berjalan sangat optimal tanpa bantuan bahan kimia berat.
Ketika mereka menggunakan produk yang tidak sesuai takaran usia, efeknya justru merusak.
• Dapat menyebabkan iritasi
Produk yang mengandung bahan aktif kuat seperti retinol, glycolic acid (AHA), atau vitamin C dosis tinggi dirancang untuk kulit dewasa.
Pada kulit anak yang cenderung sensitif, bahan-bahan ini justru memicu kemerahan, ruam, hingga jerawat parah.
Baca Juga: Resmi! Pre-Order GTA 6 Dibuka 25 Juni 2026, Rockstar Pamerkan Cover Art dan Tanggal Rilis
• Ketergantungan Psikologis
Anak-anak kehilangan ruang aman untuk menerima diri apa adanya.
Ketika standar kecantikan diukur dari rekayasa filter kamera dan skincare, rasa percaya diri mereka menjadi sangat rapuh.
Menghadapi fenomena ini, langkah terbaik bukanlah memarahi atau menyita semua kosmetik anak secara ekstrem, melainkan memberikan edukasi yang tepat.
• Kembali ke Formula Dasar (Basic Skincare)
Anak-anak sebetulnya hanya butuh tiga langkah dasar yakni pembersih wajah yang lembut, pelembap ringan, dan tabir surya (sunscreen) untuk melindungi kulit dari sinar matahari.
• Batasi Durasi Layar
Temani anak saat berselancar di media sosial dan beri pemahaman bahwa apa yang terlihat di layar sering kali sudah melalui proses penyuntingan digital.
• Puji Karakter, Bukan Cuma Fisik
Alihkan fokus pujian pada prestasi, kebaikan hati, atau kreativitas anak, agar mereka paham bahwa nilai diri mereka jauh lebih berharga daripada kulit wajah.
Merawat diri sejak dini itu baik, tetapi segala sesuatu yang berlebihan dan didasari oleh rasa cemas tentu tidak sehat.
Menikmati masa muda lebih bermakna dengan kulit yang sehat alami tanpa harus terbebani oleh standar kecantikan orang dewasa.
Editor : Meitika Candra Lantiva