RADAR MALIOBORO - Aktivitas yang monoton sering kali mengundang rasa jenuh.
Bangun pagi, kuliah atau bekerja, mengikuti organisasi, mengerjakan proyek sampingan, hingga menyusun target baru untuk hari berikutnya.
Di lain sisi “harus produktif setiap hari" menjadi semboyan yang selalu digaungkan agar lebih semangat menjalani hari.
Kalimat itu sangat akrab di telinga anak muda.
Bahkan menjadi gambaran kehidupan yang ideal.
Tak heran jika kesibukan perlahan berubah menjadi sebuah standar.
Baca Juga: Jelang Mantra Expo #2, Qhomemart Kantongi Restu Pemkab Sleman
Semakin padat jadwal seseorang, semakin dianggap produktif.
Padahal, di balik semua aktivitas tersebut, tidak sedikit anak muda yang mulai merasa lelah menjalani ritme hidup yang serba cepat.
Beberapa tahun terakhir, istilah hustle culture semakin populer.
Konsep ini mendorong seseorang untuk terus bekerja keras dan memanfaatkan setiap waktu demi mencapai kesuksesan.
Bekerja hingga larut malam, mengambil banyak tanggung jawab sekaligus.
Bahkan mengorbankan waktu istirahat sering kali dianggap sebagai bentuk dedikasi.
Baca Juga: Ketika Tradisi Bertemu Denim: Pesona Tren Kebaya Gaya Baru Pakai Celana Jeans
Namun, kini cara pandang itu mulai berubah.
Banyak anak muda mulai mempertanyakan, apakah sibuk sepanjang waktu benar-benar membuat hidup lebih baik?
Perlahan, muncul pendekatan baru yang dikenal sebagai slow productivity.
Alih-alih mengejar sebanyak mungkin aktivitas dalam sehari, konsep ini mengajak seseorang untuk bekerja dengan lebih fokus, menentukan prioritas, dan menyelesaikan pekerjaan secara maksimal tanpa harus memaksakan diri.
Perubahan pola pikir tersebut bukan berarti generasi muda menjadi malas atau kehilangan ambisi.
Justru sebaliknya, mereka mulai menyadari bahwa produktivitas tidak selalu diukur dari seberapa penuh jadwal yang dimiliki.
Menyelesaikan satu pekerjaan dengan hasil terbaik sering kali jauh lebih bermakna dibanding mengerjakan banyak hal secara bersamaan, tetapi tidak ada yang benar-benar selesai.
Media sosial juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara pandang terhadap kesibukan.
Linimasa dipenuhi unggahan tentang pencapaian, sertifikat, pekerjaan sampingan, hingga aktivitas yang terlihat begitu produktif.
Tanpa disadari, banyak orang akhirnya membandingkan dirinya dengan kehidupan yang mereka lihat di layar.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda.
Apa yang tampak di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan secara utuh.
Di sisi lain, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga semakin meningkat.
Banyak anak muda mulai memahami bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Mengambil jeda bukan berarti menyerah, melainkan cara untuk mengisi ulang energi agar dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik.
Karena itu, tidak sedikit yang mulai menikmati rutinitas sederhana.
Membaca buku, berjalan kaki di sore hari, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa tergesa-gesa kini menjadi bagian dari cara menjaga keseimbangan hidup.
Baca Juga: Workshop di Yogyakarta Tekankan Media Lokal Harus Kredibel di Era Digital
Perubahan ini menunjukkan bahwa makna sukses pun mulai bergeser.
Jika dulu sukses identik dengan jadwal yang padat dan kesibukan tanpa henti, kini semakin banyak orang yang menganggap keberhasilan juga berarti memiliki waktu untuk diri sendiri, menjaga kesehatan, dan tetap menikmati proses menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, bekerja keras tetaplah penting. Namun, hidup tidak seharusnya menjadi perlombaan untuk terlihat paling sibuk.
Produktif bukan berarti mengisi setiap menit dengan pekerjaan.
Terkadang, memberi ruang untuk berhenti sejenak justru menjadi langkah yang membuat seseorang bisa melangkah lebih jauh.
Editor : Meitika Candra Lantiva