RADAR MALIOBORO - Memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri menjadi hal penting bagi kesehatan mental dan semangat seseorang untuk hidup yang lebih baik.
Salah satu kalimat afirmasi yang sering kali muncul terkait keberuntungan dan rasa syukur atas pencapaian yang didapat.
Misalnya kalimat berikut yang sering wara-wiri di TikTok dan kemungkinan kamu menemukannya.
"Aku memang beruntung, semuanya selalu berjalan baik untukku."
Kalimat afirmasi tersebut menjadi tren yang kerap disebut dengan Lucky Girl Syndrome.
Lucky Girl Syndrome adalah sebuah metode "memanifestasikan" keberuntungan dengan cara meyakini dan mengucapkan bahwa diri sendiri memang beruntung, sampai hal itu benar-benar terwujud dalam kenyataan.
Tren ini mulai populer sejak akhir 2022, dipopulerkan konten kreator Laura Galebe yang mengklaim mendapat berbagai "kesempatan luar biasa" secara tiba-tiba setelah mempraktikkannya.
Sejak itu, jutaan orang, kebanyakan perempuan muda ikut mencobanya.
Mulai dari mendapat kopi gratis sampai cek tak terduga di kotak surat.
Baca Juga: 500 Nyawa Hilang di Laut Myanmar, Kenapa Tragedi Rohingya Ini Bukan Cerita yang Jauh dari Kita?
Konsepnya berakar dari gagasan lama bernama Law of Assumption, yang diperkenalkan penulis Neville Goddard: apa pun yang kita yakini sebagai kebenaran, cepat atau lambat akan benar-benar terjadi.
Entah itu hal baik maupun buruk. Logikanya, orang yang selalu kejatuhan sial mungkin memang sudah lebih dulu meyakini dirinya akan sial, dan sebaliknya.
Pertanyaannya, apakah ini benar-benar "sains", seperti yang sering diklaim di berbagai konten TikTok?
Jawabannya lebih rumit dari sekadar iya atau tidak.
Menurut seorang Neuroscientist Kognitif dr Christian Jarrett, daya tarik tren ini sebenarnya berasal dari fenomena psikologis bernama bias konfirmasi.
Baca Juga: iOS 27 Beta 2 Resmi Meluncur, Intip Fitur-Fitur Baru dan Peningkatan Siri yang Lebih Cerdas!
Begitu seseorang meyakini dirinya beruntung, ia cenderung mengaitkan setiap hal baik yang terjadi dengan keyakinan itu.
Sementara hal buruk yang tetap muncul dianggap sekadar "kejadian sementara sebelum sesuatu yang lebih baik datang".
Pola pikir semacam ini membuat tren ini terasa selalu "berhasil", padahal yang sebenarnya terjadi adalah cara otak menyaring informasi agar sesuai dengan keyakinan yang sudah ada.
Tapi di balik manfaat itu, banyak psikolog mengingatkan sisi gelap dari tren ini. Kritik paling sering muncul soal privilese.
Yakni seseorang bisa "beruntung" karena memang sudah berada di posisi yang memungkinkan keberuntungan itu terjadi lebih dulu.
Ia sudah memiliki jaringan sosial luas, latar belakang ekonomi stabil, atau akses pendidikan yang baik.
Tanpa privilese semacam itu, sekadar mengucapkan afirmasi tidak serta-merta membuka pintu kesempatan yang sama.
Pada akhirnya, lucky girl syndrome bukan sihir, bukan juga omong kosong sepenuhnya.
Ia hanya satu dari sekian cara kita membungkus mekanisme psikologis lama (harapan, fokus, dan cara otak menyaring informasi) dengan kemasan baru yang lebih mudah viral.
Yang perlu diingat, sebelum ikut mengucap "aku memang beruntung" setiap pagi adalah keberuntungan yang sesungguhnya biasanya tetap butuh usaha nyata di baliknya.
Bukan cuma kata-kata yang diulang-ulang di depan cermin.