Linimasa media sosial belakangan dipenuhi karakter-karakter AI dengan nama unik seperti Tralalero Tralala, Bombardiro Crocodilo, hingga Tung Tung Tung Sahur. Video berdurasi singkat dengan narasi yang terdengar tidak masuk akal itu menjadi bagian dari tren yang dikenal sebagai Italian Brainrot, sebuah fenomena yang viral di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts.
Di balik viralnya konten tersebut, istilah “brain rot” kembali menjadi perbincangan. Banyak warganet menggunakannya untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten digital yang absurd, ringan, dan terus muncul silih berganti hingga merasa sulit melepaskan diri dari layar.
Meski secara harfiah berarti "otak membusuk", brain rot bukan merupakan istilah medis. Menurut Oxford University Press, brain rot menggambarkan penurunan kondisi mental atau intelektual yang dianggap berkaitan dengan konsumsi berlebihan terhadap konten digital yang dangkal atau kurang menantang. Istilah tersebut bahkan dipilih sebagai Oxford Word of the Year 2024 setelah penggunaannya meningkat sekitar 230 persen dibanding tahun sebelumnya.
Fenomena ini berkembang seiring semakin dominannya platform video pendek. Algoritma media sosial dirancang untuk terus menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, sehingga banyak orang menghabiskan waktu lebih lama untuk terus menggulir layar. Tanpa disadari, satu video berdurasi belasan detik dapat berlanjut ke puluhan bahkan ratusan video lainnya dalam sekali membuka aplikasi.
Baca Juga: Resmi! Sepeda Boleh Lewat Malioboro, Dishub DIY Jawab Kekhawatiran Komunitas JLFR
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan konten digital yang berlangsung cepat dan terus-menerus dapat berkaitan dengan menurunnya kemampuan mempertahankan perhatian pada sebagian orang. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menyatakan brain rot menyebabkan kerusakan otak secara biologis. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai kritik budaya terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan.
Di sisi lain, kemunculan Italian Brainrot memperlihatkan bagaimana selera humor generasi internet terus berkembang. Konten yang mengandalkan karakter AI dengan visual nyeleneh, suara berlebihan, dan cerita tanpa alur yang jelas justru menjadi hiburan bagi jutaan pengguna media sosial. Semakin absurd sebuah video, semakin besar peluangnya untuk dibagikan dan menjadi viral.
Fenomena tersebut juga menunjukkan perubahan cara masyarakat mengonsumsi hiburan. Jika sebelumnya video berdurasi panjang menjadi pilihan, kini banyak pengguna lebih memilih konten singkat yang mampu menarik perhatian hanya dalam beberapa detik. Pola konsumsi seperti ini membuat media sosial semakin kompetitif dalam mempertahankan fokus penggunanya.
Meski begitu, menikmati konten hiburan bukan berarti seseorang otomatis mengalami brain rot. Istilah tersebut lebih sering digunakan sebagai ungkapan satir untuk menggambarkan kebiasaan scrolling tanpa henti hingga merasa "otak dipenuhi" oleh konten-konten ringan. Karena itu, menjaga keseimbangan antara waktu di depan layar dan aktivitas di luar media sosial tetap menjadi hal penting agar konsumsi konten digital tidak mengganggu produktivitas sehari-hari.