Membuka media sosial atau menyaksikan berita belakangan ini sering kali terasa melelahkan. Isu politik yang memanas, kebijakan publik yang kontroversial, ketimpangan ekonomi, hingga polemik hukum yang tak kunjung usai membuat atmosfer berbangsa terasa carut-marut. Rasa cemas, marah, dan tidak berdaya menjadi makanan sehari-hari bagi banyak masyarakat Indonesia.
Di tengah situasi yang riuh dan penuh ketidakpastian ini, sebuah filsafat kuno dari Yunani dan Romawi Purba menemukan Stoikisme dan hingga detik ini masih memiliki relevansi yang sangat kuat.
Lantas, bagaimana ajaran filsafat berusia lebih dari 2.000 tahun ini bisa membantu kita tetap berakal sehat dan berdaya di Indonesia hari ini?
Baca Juga: Apa Itu Buck Moon? Bulan Purnama Juli yang Sempat Hiasi Langit Indonesia Tadi Malam
1. Dikotomi Kendali: Memisahkan Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Kita Atur
Inti terpenting dari Stoikisme terletak pada konsep Dikotomi Kendali (Dichotomy of Control). Filsuf Epictetus menegaskan bahwa hal-hal di dunia ini terbagi menjadi dua:
a. Di luar kendali kita: Kebijakan pemerintah, hasil pemilu, kelakuan para pejabat, harga bahan pokok, hingga opini publik di media sosial.
b. Di bawah kendali kita: Pikiran, respons, tindakan, keputusan pribadi, serta bagaimana kita menyikapi keadaan.
Saat negara terasa carut-marut, kemarahan kita sering kali timbul karena kita menghabiskan energi untuk meratapi hal-hal yang di luar kendali. Stoikisme tidak menyuruh kita menjadi acuh tak acuh, melainkan mengajarkan fokus: porsi energi terbesar harus diarahkan pada tindakan konkret yang berada di dalam kendali kita sendiri.
2. Berpikir Jernih Tanpa Terjebak Kemarahan Reaktif
Filsuf Stoik seperti Seneca mencatat bahwa kemarahan adalah bentuk "kegilaan sementara" yang merusak daya nalalar. Di Indonesia, narasi media sosial sering kali dirancang untuk memancing emosi reaktif demi engagement.
Stoikisme mengajarkan jeda antara stimulus dan respons. Ketika melihat berita buruk atau ketidakadilan:
Prinsip stoik adalah "Hal yang terjadi tidak menyulitkanmu, melainkan penilaianmu tentang hal itulah yang menyulitkanmu." — Marcus Aurelius
Dengan melatih mental untuk tidak langsung tersulut emosi, kita bisa menilai keadaan secara objektif. Kita mengubah energi marah yang merusak menjadi analisis yang jernih dan kritis.
3. Symphatheia
Baca Juga: Bocor di Red Carpet Premiere, Peran Misterius Sadie Sink di ‘Spider-Man: Brand New Day’ Terungkap!
Ada kesalahpahaman umum bahwa menjadi seorang Stoik (stois) berarti menjadi dingin, apatis, atau tidak peduli pada sesama. Ini keliru. Stoikisme mengenal konsep Symphatheia—kesadaran bahwa seluruh manusia saling terhubung sebagai bagian dari satu masyarakat global.
Di tengah kondisi negara yang carut-marut, Stoikisme mendorong warga negara untuk tidak menarik diri ke dalam sikap nihilisme. Sebaliknya, seorang Stoik bertindak atas dasar kewajiban moral (duty):
Jika tidak bisa mengubah kebijakan nasional, mulailah dengan membenahi lingkungan terdekat.
Jalankan peran pribadi dengan integritas menjadi warga yang jujur, membantu sesama yang kesulitan, atau aktif dalam aksi komunitas.
Stoikisme bukan alat untuk membenarkan ketidakadilan atau pasrah pada keadaan. Marcus Aurelius sendiri adalah seorang Kaisar Romawi yang setiap hari bertarung melawan krisis politik, perang, dan wabah, ia tidak melarikan diri dari kenyataan, tetapi menghadapinya dengan kepala dingin.
Bagi masyarakat Indonesia saat ini, mempraktikkan Stoikisme adalah bentuk resistensi mental. Ketika kondisi luar mencoba menguras kesehatan jiwa dan rasionalitas kita, Stoikisme menawarkan cara untuk tetap tenang, berpikir kritis, dan terus berbuat baik di ranah yang bisa kita jangkau.
Negara boleh saja sedang bising dan penuh kekacauan, tetapi kendali atas pikiran dan integritas diri tetap sepenuhnya ada di tangan kita.