JOGJA - Agenda rutin Jogja Last Friday Ride (JLFR) pada Jumat (31/7/2026) terasa berbeda. Pada kegiatan ke-195, para pesepeda tampak lebih kondusif. Kedatangan rombongan pesepeda juga tidak langsung tumplek blek. Namun secara bertahap.
Kegiatan JLFR sebelumnya menjadi sorotan. Lantaran sempat dibatasi kegiatannya masuk ke kawasan Malioboro. Tepao pada JLFR ke-194. Lantaran para pesepeda dinilai menimbulkan gangguan bagi wisatawan.
Pantauan Radar Jogja, para pesepeda mulai masuk ke kawasan Malioboro sekitar pukul 19.00. Kemudian semakin malam jumlah pesepeda semakin banyak. Kemacetan memang sempat terjadi. Tapi berangsur lancar karena petugas mengatur.
Salah satu pesepeda, Nathan mengatakan bahwa kegiatan seperti JLFR memang seharusnya didukung dan dilaksanakan rutin. Sebab bisa menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk berkegiatan positif.
Baca Juga: Ratusan Bikers Padati Yogyakarta dalam Gelaran Honda Vario Evo 160 Night Ride
Ia juga berharap agar pengaturan Malioboro sebagai ruang bersepeda bisa diwujudkan lebih baik lagi. Pasalnya masih ada kendaraan seperti becak motor dan Trans Jogja yang melintas di tengah-tengah pesepeda.
“Kalau memang mau dirutinkan, mungkin kedepannya kendaraan bermotor dan segala macamnya dibebaskan lah, istilahnya benar-benar car free day,” ujar mahasiswa salah satu kampus swasta di Jogja ini.
Kegiatan JLFR mendapat tanggapan positif dari warga. Harsono warga Kampung Miliran, Muja-muju, Umbulharjo memandang ruang bersepeda memang dibutuhkan oleh anak-anak muda saat ini.
Ia menilai, kehadiran mereka murni didorong oleh rasa gembira dan keinginan untuk berkumpul secara positif. Meski memberikan dukungan penuh, pria 60 tahun ini menekankan pentingnya menjaga ketertiban di jalan raya. Ia mengimbau para peserta untuk tetap mematuhi aturan demi keselamatan bersama.
“Harapannya dari pemerintah ya bisa diwadahi. Syukur-syukur kalau ada ketua atau koordinatornya, jadi kegiatannya bisa lebih terorganisasi dengan baik,” tutur Harsono.
Sementara bagi wisatawan, Tri Widiastuti asal Purworejo, Jawa Tengah memandang kegiatan bersepeda di Malioboro cukup menjadi hiburan. Ia mengaku senang melihat antusiasme anak-anak muda yang memadati ikon wisata Jogja tersebut dengan mengayuh sepeda bersama rombongan.
Menurutnya, tren ini jauh lebih berguna ketimbang sekadar berkumpul tanpa arah. Kendati begitu, keberadaan rombongan pesepeda dalam jumlah besar juga mendatangkan perhatian tersendiri terkait ketertiban lalu lintas. Tri ingin agar para peserta yang mengayuh sepeda tetap mengutamakan keselamatan dan menghormati pengguna jalan lain.
"Harapannya agar lebih kondusif. Tetap harus hati-hati dan jangan sampai mengganggu pengendara lain, seperti mobil atau angkutan kota,” ungkapnya.
Baca Juga: 25 Ucapan National Girlfriend Day 2025 Lengkap dengan Ide Kado Spesialnya
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo juga tampak hadir meninjau langsung kegiatan JLFR di Malioboro. Ia mengaku telah beberapa kali mengelilingi rute guna memastikan pergerakan kendaraan berjalan lancar.
Berdasarkan pantauannya, kondisi lalu lintas pada JLFR ke-195 relatif aman dan kondusif. Pembagian lajur jalan dinilai berjalan cukup baik. Mulai dari kawasan Kridosono, Tugu Mangkubumi, Stasiun Tugu, hingga Malioboro, seluruh kendaraan roda empat melaju di lajur kanan sementara pesepeda berada di sisi kiri.
Menanggapi pertanyaan terkait penataan kawasan Malioboro dan skema lalu lintas ke depan, ia menegaskan bahwa alurnya sudah dibuat oleh petugas kepolisian dan instansi terkait. Fokus pemantauanya adalah memastikan efektivitas fungsi jalan. Supaya masyarakat, pesepeda hingga wisatawan dapat melintas dengan nyaman tanpa hambatan.
"Yang penting bagaimana semua bisa menggunakan jalan dan tidak ada yang terganggu. Pokoknya tagarnya sithik eding," tandasnya. (inu)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja