Namun, fenomena menarik justru terjadi belakangan ini ketika generasi muda di berbagai kota besar justru menunjukkan tren kembali menyukai dan mengoleksi buku fisik.
Pertumbuhan komunitas pembaca di media sosial serta riuhnya bazaar buku internasional dan kedai buku independen menjadi bukti bahwa buku cetak belum kehilangan marwahnya. Ada beberapa alasan mendasar di balik pergeseran tren ini:
1. Kelelahan Layar
Baca Juga: Gaya Hidup Minimalis di Kota Besar: Solusi Hemat atau Justru Beban Finansial Baru?
Anak muda era kini menghabiskan waktu 8 hingga 10 jam sehari di depan layar gawai untuk bekerja, belajar, dan berinteraksi sosial. Membaca buku fisik menjadi bentuk "dekompresi" atau jeda dari paparan cahaya biru (blue light) dan rentetan notifikasi yang tiada henti. Buku cetak menawarkan pengalaman santai yang utuh tanpa distraksi.
2. Pengalaman Sensorik yang Tak Tergantikan
Membaca buku cetak melibatkan banyak indra, mulai dari tekstur kertas yang disentuh, aroma khas lem dan kertas baru maupun lama, hingga sensasi membalikkan halaman demi halaman secara fisik. Pengalaman taktil ini menciptakan ikatan emosional dan tingkat fokus yang lebih dalam dibandingkan sekadar mengusap layar kaca.
3. Buku sebagai Identitas dan Dekorasi Ruang
Buku fisik kini memegang peran baru sebagai simbol identitas diri dan estetika kehidupan. Memajang buku di rak, membawa buku saat nongkrong di kedai kopi, atau membagikan ulasan buku dengan sampul yang artistik di media sosial menjadi bagian dari penegasan identitas literasi generasi muda.
E-book dan buku cetak tetap memiliki porsi dan fungsinya masing-masing. E-book unggul dalam aspek praktis dan mobilitas, sementara buku fisik menang dalam menyajikan pengalaman membaca yang berkesan dan bermakna.