Lelah Swipe Kiri-Kanan: Mengapa Orang Mulai Tinggalkan Dating Apps dan Kembali ke Cara Lama?

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:31 WIB
ilustrasi update di media sosial.  (pinterest @bbc.com)
ilustrasi update di media sosial. (pinterest @bbc.com)

Aplikasi kencan daring atau dating apps sempat dipuja sebagai revolusi terbesar dalam cara manusia menemukan pasangan, namunnbelakangan ini terjadi fenomena dating app fatigue atau kelelahan berlebih akibat penggunaan aplikasi kencan.

Semakin banyak orang, khususnya Gen Z dan Milenial, yang memilih menghapus akun mereka dan kembali ke cara-cara konvensional untuk bertemu orang baru.

Penyebab utama dari fenomena ini adalah ketersediaan pilihan yang seolah tak terbatas. Psikolog Barry Schwartz menyebutnya sebagai Paradox of Choice, yakni semakin banyak pilihan yang dimiliki seseorang, semakin sulit baginya untuk merasa puas dan membuat keputusan.

Di aplikasi kencan, pengguna terus-menerus menggeser layar dengan harapan menemukan sosok yang "lebih sempurna" di geseran berikutnya.

Baca Juga: Belajar Berjam-jam Tapi Tak Ada yang Masuk? Ini Rahasia Otak Menyerap Informasi Lebih Cepat

Hal ini mengubah proses pencarian pasangan menjadi mirip katalog belanja online, di mana manusia dikomodifikasi berdasarkan beberapa lembar foto dan deskripsi singkat.

Interaksi melalui teks di aplikasi kencan kerap terasa hampa dan tidak otentik. Basa-basi yang berulang "Hai, tinggal di mana?" memicu kejenuhan komunikasi. Selain itu, ketiadaan ikatan sosial nyata membuat budaya ghosting—menghilang tiba-tiba tanpa penjelasan—menjadi hal yang dianggap lumrah.

Pola interaksi yang serba cepat dan rentan penolakan ini pada akhirnya memicu kecemasan emosional dan penurunan rasa percaya diri.

Sebagai dampaknya, tren sosial kini bergeser kembali ke interaksi langsung.

Orang-orang mulai bergabung dengan klub lari, komunitas buku, kelas kerajinan, hingga acara speed dating lokal. Alasan di balik kebangkitan cara lama ini sangat sederhana, biasanya dipicu oleh bahasa tubuh dan chemistry real-time seperti nada suara, kontak mata, dan ekspresi wajah tidak bisa diwakili oleh emoji.

Tidak hanya itu, konteks sosial yang jelas di komunitas biasanya akan memberikan fondasi nilai atau ketertarikan yang sama sejak awal.

Baca Juga: Gelombang 5 Meter Menggila di Kulon Progo, Pantai Glagah hingga Trisik Diterjang Ombak

Hal ini dinilai juga sebagai proses yang lebih manusiawi karena komunikasi tatap muka meminimalkan risiko manipulasi profil dan memunculkan koneksi emosional yang lebih jujur.



Editor : Bahana.
dating apps Gen Z milenial