Saku menjadi bagian yang nyaris tidak terpisahkan dari pakaian. Namun, bagi perempuan, keberadaan saku pada busana sering kali menjadi persoalan tersendiri. Tidak sedikit pakaian wanita memiliki saku berukuran kecil atau bahkan hanya menjadi elemen dekoratif.
Kondisi tersebut ternyata memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-17 dan ke-18, perempuan sebenarnya sudah memiliki tempat penyimpanan barang yang cukup praktis. Hanya saja, bentuknya berbeda dari saku yang dikenal pada pakaian modern.
Saat itu, perempuan menggunakan kantong terpisah yang dikenakan di balik rok atau gaun. Kantong tersebut biasanya diikatkan pada pinggang dan dapat diakses melalui celah pada lipatan pakaian.
Ukurannya pun cukup besar. Berbagai barang pribadi seperti uang, kunci, sapu tangan hingga benda kecil lainnya dapat disimpan di dalamnya.
Baca Juga: Loneliness Epidemic: Mengapa Banyak Teman di Media Sosial Justru Membuat Kita Kesepian?
Dengan demikian, perempuan pada masa tersebut sebenarnya memiliki ruang penyimpanan yang cukup fungsional meskipun kantong tersebut belum menjadi bagian permanen dari pakaian.
Ketika Mode Mengubah Fungsi Saku
Perubahan mulai terjadi seiring perkembangan mode pada akhir abad ke-18. Siluet pakaian perempuan mengalami perubahan dan semakin menonjolkan bentuk tubuh serta garis busana yang ramping.
Kantong besar yang dikenakan di balik rok dianggap dapat mengubah bentuk pakaian. Akibatnya, ruang penyimpanan tersebut perlahan semakin tersembunyi atau kehilangan fungsi praktisnya.
Perkembangan desain busana pada abad-abad berikutnya semakin memperkuat kondisi tersebut. Saku pada pakaian perempuan tidak selalu dibuat dengan pertimbangan kapasitas, melainkan juga estetika dan bentuk busana.
Sementara itu, pakaian pria justru semakin banyak menggunakan saku yang terintegrasi langsung ke dalam desain. Perbedaan tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah perkembangan busana berdasarkan gender.
Bukan Sekadar Persoalan Fashion
Minimnya saku fungsional pada pakaian wanita akhirnya tidak hanya menjadi persoalan kenyamanan. Bagi sebagian sejarawan fashion, perkembangan desain tersebut juga berkaitan dengan perubahan posisi sosial dan ekonomi perempuan.
Ketika perempuan memiliki akses lebih terbatas terhadap ruang publik, kepemilikan, maupun aktivitas ekonomi pada periode tertentu dalam sejarah, kebutuhan mereka terhadap pakaian yang dirancang untuk membawa barang secara mandiri juga tidak menjadi prioritas utama dalam industri busana.
Baca Juga: Al Jazeera Soroti Derita Warga NTT Pasca-Gempa M7,7: Ribuan Mengungsi, Anak-anak Mulai Sakit
Kini, persoalan tersebut kembali menjadi perhatian. Banyak desainer mulai mengembangkan pakaian wanita dengan saku yang lebih besar dan fungsional.
Saku mungkin terlihat sebagai detail kecil dalam sebuah pakaian. Namun, sejarahnya menunjukkan bahwa desain busana juga dapat mencerminkan perubahan teknologi, budaya, gaya hidup, bahkan posisi sosial masyarakat.
Editor : Bahana.