Mengenal Fat Choy, Bahan Masakan Ngetren yang  Terlihat Seperti Rambut

Farah Rizki Ramadhan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:21 WIB
Fat choy sebagai pugasan makanan ringan. (Instagram/@henjiwong, dan X/@yeaynay)
Fat choy sebagai pugasan makanan ringan. (Instagram/@henjiwong, dan X/@yeaynay)

 

RADAR MALIOBORO - Fat choy (fà cài) atau yang dikenal juga dengan black moss adalah koloni sianobakteri darat (Nostoc flagelliforme) yang hidup secara alami di daerah padang rumput kering terutama di Wilayah Tiongkok, Mongolia, dan Asia Tengah. 

Bahan ini berbentuk panjang, berwarna hitam, dan tipis menyerupai rambut hitam halus.

Meskipun bahan ini sering disalahpahami sebagai sayuran ataupun rumput laut, fat choy bukanlah koloni tumbuhan dan tidak hidup di laut.  

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Andrea Bocelli Bakal Konser di Borobudur dan Jakarta

Bahan ini sering digunakan secara tradisional dalam masakan Tiongkok dan disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek karena namanya 发菜 (fà cài/fat choy) mirip dengan kata 发财 (fā cái) yang berarti “menjadi kaya” atau “mendapatkan kemakmuran” di dalam bahasa Kanton.

Orang Tiongkok percaya mengonsumsi bahan ini di perayaan imlek akan mendatangkan kemakmuran. 

Baru-baru ini fat choy populer digunakan sebagai pugasan/topping pada manisan, seperti croissant “berbulu”/“mor oi” Thailand yang menjadi viral karena visualnya yang mengejutkan.

Inovasi penggunaan fat choy sebagai pugasan ini karena fat choy memang dijual di pasaran dalam bentuk kering agar awet disimpan. 

Baca Juga: Apple Bayar Kompensasi Rp2,6 Miliar dalam Kasus Pemecatan Karyawan Terkait Ibadah

Meskipun memiliki visual yang tidak wajar dan mengejutkan, fat choy sebenarnya memiliki rasa ringan.

Bahan ini juga memiliki tekstur kenyal seperti bihun jika dikonsumsi setelah direndam air hingga mengembang. 

Bahan ini aman dikonsumsi dalam batas wajar, asalkan bahan diperoleh dari produksi yang aman, terpercaya, dan memenuhi standar kehigienisan. 

Dibalik kepopuleran fat choy, sebenarnya fat choy adalah organisme langka yang sekarang tidak boleh diburu secara liar karena akan mengganggu ekosistem gurun dan padang rumput kering.

Baca Juga: X1, Pesawat Listrik Terbesar di Dunia Sukses Jalani Penerbangan Perdana

Akibatnya, fat choy yang tersebar saat ini perlu diwaspadai karena bisa jadi merupakan bahan tiruan, bukan organisme asli fat choy. 

Setelah membaca tentang artikel ini, apakah Anda ingin mencoba fat choy?

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Mengenal Fat Choy Fat choy Bahan Masakan Ngetren