RADAR MALIOBORO – Fase stres dan burnout hampir pasti pernah dialami setiap orang.
Ketika momen itu datang, dampaknya sering kali terlihat dari perubahan perilaku.
Ada yang memilih menyendiri, menangis, atau justru tergerak untuk mengubah penampilan dengan memotong rambut.
Bagi banyak wanita, memotong rambut menjadi pendek kerap dianggap sebagai bentuk "buang sial" sekaligus cara cepat merilis beban pikiran.
Rupanya, kebiasaan ini memang menyimpan beragam manfaat positif bagi kesehatan mental maupun fisik.
Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Lokal, DPRD Kota Jogja Wadahi Pengembangan Kuliner Tradisional Jadi Daya Tarik Wisa
Seorang psikolog dan pelatih karir asal Manhattan, Dr. Lauren Appaio, mengamati dorongan kuat di balik tindakan ini.
Keinginan memotong rambut sering kali muncul tepat setelah seseorang melewati situasi yang memicu stres, baik peristiwa positif maupun negatif.
Potongan rambut yang pas dan rapi terbukti efektif membuat seseorang merasa lebih baik sekaligus mendongkrak rasa percaya diri.
Pandangan senada disampaikan oleh Dr Juli Fraga, seorang psikolog berlisensi spesialis kesehatan wanita dari San Francisco.
Baca Juga: Lagu "Astaga Bercanda" Mendunia, Thomas Müller hingga Seunghan Ikut Ramaikan Tren TikTok
Rambut yang kurang terawat atau memiliki tatanan buruk bisa memengaruhi suasana hati dan persepsi terhadap diri sendiri, layaknya saat mengenakan pakaian yang tidak nyaman.
Dengan merawat penampilan melalui gaya rambut yang lebih segar, seseorang dapat membangun citra diri yang positif dan menekan tingkat stres secara keseluruhan.
Saat tampilan luar terasa menyenangkan, mood pun otomatis ikut terangkat.
Tidak berhenti pada kesehatan mental, memotong rambut secara teratur juga membawa dampak nyata bagi kesehatan fisik. Kebiasaan ini membantu mengurangi rasa gatal dan iritasi pada kulit kepala karena kebersihannya lebih terjaga.
Selain itu, potongan yang tepat mampu meningkatkan sirkulasi darah di kulit kepala serta merangsang pertumbuhan rambut baru yang lebih sehat, berkilau, dan tidak mudah rusak.