Bukan Malas Belajar, Gen Z di Bangku Kuliah Kini Dihadapkan pada Tantangan Membaca

Regina Renate Yosuana • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:25 WIB
Aktivitas membaca buku disela waktu. (Freepik)
Aktivitas membaca buku disela waktu. (Freepik)

Kemampuan membaca yang selama ini dianggap sebagai bekal dasar memasuki perguruan tinggi ternyata menjadi tantangan bagi sebagian mahasiswa Generasi Z. Fenomena tersebut mulai mendapat perhatian sejumlah pengajar di Amerika Serikat yang menemukan mahasiswa kesulitan memahami bacaan akademik, bahkan ketika teks tersebut harusnya dapat dipahami secara mandiri.

Persoalan yang muncul bukan semata-mata karena mahasiswa enggan membaca buku. Sebagian dosen justru menemukan adanya kesulitan dalam memahami kalimat, mengikuti alur argumentasi, hingga menangkap gagasan utama dari teks yang diberikan.

Kondisi itu akhirnya ikut mengubah pola pembelajaran di sejumlah ruang kelas. Dosen tidak lagi sepenuhnya mengandalkan tugas membaca mandiri, tetapi mulai mengajak mahasiswa berhadapan langsung dengan teks dan membahasnya secara bertahap.

Dosen Harus Kembali Mengajarkan Cara Membaca

Pengalaman tersebut salah satunya diceritakan Jessica Hooten Wilson, profesor bidang humaniora di Pepperdine University.

Wilson menemukan sejumlah mahasiswa yang mengalami kesulitan ketika membaca teks akademik. Untuk membantu mereka, ia memilih mengubah metode pembelajaran dengan mengajak mahasiswa membaca bersama di dalam kelas.

Baca Juga: Bukan Cuma Mitos "Buang Sial", Alasan Psikologis Ini Bikin Cewek Ketagihan Potong Rambut Saat Stres!

Bacaan yang sebelumnya mungkin diberikan untuk dipelajari sendiri di rumah kini dibedah secara perlahan. Bagian tertentu bahkan dibahas baris demi baris agar mahasiswa dapat memahami maksud penulis serta konteks yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa tantangan literasi di perguruan tinggi tidak selalu berkaitan dengan kemampuan mengenali kata atau membaca kalimat. Persoalan yang lebih kompleks adalah bagaimana mahasiswa memahami, mengolah, dan mengkritisi informasi yang mereka baca.

Terbiasa Konten Singkat, Kesulitan Hadapi Teks Panjang?

Perubahan pola konsumsi informasi menjadi salah satu faktor yang ikut mendapat perhatian.

Gen Z tumbuh di tengah ekosistem digital yang memungkinkan informasi diperoleh dengan sangat cepat. Media sosial, video berdurasi pendek, mesin pencari, hingga berbagai platform berbasis kecerdasan buatan membuat pengguna terbiasa mendapatkan informasi dalam format ringkas dan instan.

Kebiasaan tersebut tentu memberikan keuntungan. Informasi bisa ditemukan lebih cepat dan beragam sumber dapat diakses hanya melalui perangkat yang berada di genggaman.

Namun, membaca buku atau artikel akademik membutuhkan jenis konsentrasi yang berbeda. Pembaca harus bertahan lebih lama pada satu teks, memahami hubungan antaride, mengikuti argumen penulis, sekaligus mengingat informasi yang telah dibaca sebelumnya.

Di sinilah sebagian mahasiswa menghadapi tantangan ketika harus beralih dari pola konsumsi informasi singkat menuju bacaan akademik yang panjang dan kompleks.

Ringkasan dan AI Bisa Jadi Jalan Pintas

Kemudahan teknologi juga menghadirkan persoalan lain. Mahasiswa kini memiliki akses terhadap berbagai layanan yang dapat merangkum bacaan panjang dalam waktu singkat, termasuk teknologi kecerdasan buatan.

Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Lokal, DPRD Kota Jogja Wadahi Pengembangan Kuliner Tradisional Jadi Daya Tarik Wisa

Bantuan tersebut memang dapat mempermudah proses belajar. Namun, jika terlalu sering digunakan sebagai pengganti membaca sumber utama, mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan gagasan yang disampaikan penulis.

Padahal, proses membaca bukan hanya bertujuan mendapatkan kesimpulan. Dalam bacaan akademik, mahasiswa juga perlu memahami bagaimana sebuah argumen dibangun, bukti apa yang digunakan, serta apakah kesimpulan penulis dapat diterima atau justru perlu dipertanyakan.

Kemampuan seperti itu menjadi bagian penting dari keterampilan berpikir kritis di perguruan tinggi.

Jangan Terburu-buru Cap Gen Z Malas

Fenomena tersebut juga tidak semestinya menjadi alasan untuk menyamaratakan seluruh Gen Z sebagai generasi yang malas membaca.

Kemampuan literasi dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pengalaman pendidikan, kualitas pembelajaran, akses terhadap bahan bacaan, perkembangan teknologi, hingga perubahan kebiasaan dalam memperoleh informasi.

Karena itu, persoalan yang dihadapi sebagian mahasiswa membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Kampus dan tenaga pengajar tidak hanya dituntut mempertahankan standar akademik, tetapi juga mencari metode pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa kembali terbiasa membaca secara mendalam.

Membaca bersama di kelas, membedah teks secara bertahap, memberikan konteks sebelum membaca, hingga mengajarkan cara menemukan gagasan utama dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pada akhirnya, tantangannya bukan memilih antara teknologi dan buku. Yang lebih penting adalah memastikan teknologi menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan mahasiswa untuk membaca, memahami, mempertanyakan, dan berpikir secara mandiri.

Editor : Bahana.
pendidikan literasi mahasiswa Gen Z teknologi ai