Angka Pernikahan Indonesia Terus Anjlok, Mengapa Anak Muda Ragu Menikah?

Perawati • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 14:01 WIB
Ilustrasi pernikahan Meyden dan Hengky (foto: tiktok, mbeeeee)
Ilustrasi pernikahan Meyden dan Hengky (foto: tiktok, mbeeeee)

Mengikat janji suci di pelaminan pernah dipandang sebagai fase hidup wajib bagi mayoritas masyarakat Indonesia. 

Namun, data terbaru yang dirilis Badan pusat Statistik (BPS) mengungkap kenyataan sebaliknya, angka pernikahan di Indonesia dilaporkan menurun signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menandakan ada tren warga yang mulai enggan atau menunda untuk menikah.

Menurut Laporan Statistik Indonesia 2024, grafik penurunan jumlah perkawinan terus terjadi hingga mencapai titik terendahnya sepanjang sejarah pencatatan dalam dekade ini dengan total 1,47 juta pasangan saja. 

 Apa yang menjadi faktor penurunan angka pernikahan? 

Salah satu faktor penentu utama di balik fenomena ini tidak lain adalah stabilitas ekonomi. Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan yang stabil menciptakan rasa tidak aman yang meluas di kalangan anak muda.

Banyak pasangan sudah memiliki niat dan keberanian untuk menikah, namun keinginan tersebut terpaksa dipendam kembali karena dihadapkan pada kondisi pertumbuhan Upah Minimum Regional (UMR) yang dinilai “segitu-gitu saja”, sementara biaya kebutuhan pokok terus melambung. 

Baca Juga: Jamur Krispi Cabai Garam, Menu Hemat Anak Kos yang Wajib Direcook

Membandingkan dengan generasi terdahulu yang sanggup membeli rumah secara bertahap, berbanding terbalik dengan anak muda saat ini yang merasa memiliki rumah hunian pribadi rasanya seperti impian yang jauh dari jangkauan.

Selain itu, keterbatasan ekonomi ini memicu efek domino yang lebih jauh hingga kecemasan akan keberlanjutan masa depan keturunan. Banyak pasangan muda merasa belum sanggup memberikan jaminan hidup, pendidikan, dan kesehatan yang layak bagi anak mereka kelak.

Logika finansial yang realistis membuat mereka enggan memaksakan diri. Daripada melahirkan anak dalam kondisi finansial yang serba terbatas, menunda pernikahan atau menunda untuk memiliki anak (child free) hingga kondisi benar-benar stabil menjadi pilihan yang dianggap paling bertanggung jawab.

Selain persoalan finansial, pergeseran nilai-nilai sosial turut memegang peranan kunci. Saat ini, kebahagiaan dan pengembangan diri sering kali ditempatkan sebagai prioritas utama sebelum benar-benar berkomitmen dalam hubungan jangka panjang.

Anak muda kini jauh lebih selektif dan memilih untuk menunggu hingga menemukan pasangan yang benar-benar tepat diandingkan terburu-buru hanya untuk memenuhi ekspektasi masyarakat sekitar.

Namun, dalam perjalanan mencari pasangan ideal juga dibayangi oleh melimpahnya informasi di era digital seperti saat ini. Muncul standar tinggi mengenai “sosok suami/istri ideal” atau “pola asuh sempura” yang kerap memicu kecemasan tersendiri.

Faktor trauma masa lalu kerap kali menjadi salah satu alasan untuk menunda pernikahan. Banyak anak muda tumbuh dengan menyaksikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau perselingkuhan yang dialami oleh orang tua maupun lingkungan sekitar.

Baca Juga: AS Pertimbangkan Tarif Baru, Harga Konsol dan Laptop Gaming Berpotensi Makin Mahal

Pengalaman pahit tersebut menyisakan ketakutan mendalam akan terulangnya pola kegagalan yang sama, sehingga melahirkan pemikiran, lebih baik sendiri daripada menambah beban hidup.

Tren penurunan angka pernikahan ini bukannya tanpa risiko bagi masa depan indonesia. Jika pola sosial ini terus berlanjur tanpa adanya kebijakan publik yanng adaptif dan mendukung keluarga muda, Indonesia berisiko menghadapi percepatan penuaan penduduk atau aging population. Penurunan angka pernikahan secara otomatis akan berdampak pada angka kelahiran.

Jangka panjang berkurangnya populasi usia produktif ini berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat, menurunkan produktivitas nasional, hingga meredupkan pertumbuhan ekonomi lokal yang selama ini disokong oleh demografi.

Editor : Bahana.
pernikahan indonesia angka menikah menurun menikah perceraian