Ketika malam yang seharusnya jadi waktu beristirahat justru berubah menjadi momen penuh kecemasan ketika layar ponsel menampilkan konten berisi pencapaian di usia 20 tahun. Bagi sebagian besar generasi muda, tontonan semacam ini tak lagi sekadar hiburan, melainkan pemicu munculnya rasa gagal dan perasaan tertinggal.
Media sosial perlahan menggeser realitas objektif dan membentuk standar baru, seolah-olah usai awal 20-an adalah masa untuk puncak karier seseorang. Namun, secara biologis dan sosiologis, fase emerging adulthood atau awal usia 20-an ini sejatinya adalah masa transisi, pencarian identitas, dan eksplorasi.
Kondisi tersebut turut disoroti oleh content creator Owen melalui akun TikTok pribadinya, @owensipalingbumble. Ia menilai, banyak anak muda terjebak dalam ekspektasi buatan yang memicu kecemasan mendalam.
“Kesalahan terbesar anak umur 20-an adalah mereka merasa perlu menjadi seseorang secepat itu, karena mereka melihat orang sebayanya sudah punya pencapaian dan mereka langsung menyimpulkan, ‘kalau gue ngga sesukses itu, berarti gue ketinggalan’,” ungkapnya.
Baca Juga: Pesawat Garuda GA604 Pecah Ban, Ari Lasso Ada di Dalam Pesawat
Akibat dari standar tak tertulis tersebut, impian untuk memiliki keseimbangan hidup atau work-life balance kerap berakhir menjadi rencana. Generasi Z terus dibayangi rasa takut tertinggal yang berkepanjangan.
Di era digital, fungsi media sosial telah bergeser. Tak lagi sebatas sarana komunikasi dan hiburan, platform digital kini memegang peranan besar dalam memengaruhi kesehatan mental penggunanya.
Durasi penggunaan layar (screen time) orang dewasa yang melebihi dua jam sehari di luar kebutuhan pekerjaan menjadi hal lazim, terutama di kalangan Gen Z.
Karakteristik media sosial yang cenderung menampilkan momen terbaik dari kehidupan seseorang tanpa memperlihatkan proses perjuangan di baliknya, menjadi konsumsi harian yang membentuk cara pandang penggunanya.
Konsumsi konten yang intensif ini pada akhirnya memicu fenomena quarter-life crisis. Fenomena ini ditandai dengan pergeseran pemikiran yang mendalam akibat tingginya ekspektasi masyarakat, tekanan karier, dan aspirasi pribadi yang saling bertabrakan.
Bukannya menjadi sumber motivasi, paparan pencapaian orang lain justru berubah menjadi bahan insecure. Muncul dorongan tak tertulis bahwa jika belum “jadi apa-apa” di usia 20 tahun, seseorang dianggap telah gagal.
Untuk mengurai standar semu tersebut, Owen menekankan pentingnya kembali pada pemaknaan nilai-nilai pribadi (personal values) dibanding membandingkan jalur hidup dengan orang lain.
Baca Juga: Tradisi Potong Rambut Gimbal Dieng, Warisan Budaya Penuh Makna Spiritual
Menurutnya, solusi utama menghadapi perasaan tertinggal adalah dengan membangun keberhasilan versi diri sendiri yang berlandaskan prinsip dan nilai personal.
"Cukup bangun keberhasilan diri sendiri dari value dan prinsip tentang 'aku mau jadi seperti apa' dan 'aku mau orang lain melihatku seperti apa'," tutur Owen.
Editor : Bahana.