Mengapa Rp100 Ribu Sekarang Cepat Sekali Habis? Ini Cara Mengatasinya

Perawati • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 14:53 WIB
Ilustrasi uang seratus ribu terasa cepat habis (freemik)
Ilustrasi uang seratus ribu terasa cepat habis (freemik)

 Masih ingatkah Anda momen ketika selembar uang berwarna merah dengan nilai Rp100.000  terasa begitu besar? Beberapa tahun lalu, membawa uang seratus ribu rupiah ke pasar tradisional atau minimarket bisa menghasilkan satu kantong penuh belanjaan harian, mulai dari bahan pokok, camilan, hingga perlengkapan rumah tangga.

Sebaliknya, hari ini  lembaran merah tersebut terasa seperti melayang begitu saja. Hanya untuk membeli beberapa barang kecil atau sekali nongkrong di kedai kopi, pecahan Rp100.000 langsung menyusut menjadi uang kembalian receh yang hilang tak berbekas dalam hitungan jam.

Penyusutan daya beli ini dipicu oleh beberapa faktor utama. Inflasi menjadi alasan mendasar yang secara konsisten menurunkan nilai riil mata uang, sehingga terdapat kenaikan harga bahan pangan, BBM, hingga tarif transportasi.

Akibatnya, nominal Rp100.000 yang Anda pegang hari ini memiliki nilai riil yang jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Scrolling Terus Bikin Bosan, 5 Cara Menikmati Weekend Anak Kost Tanpa Keluar Banyak Uang

Kondisi ini diperparah oleh efek psikologis "pecah uang", di mana selembar Rp100.000 yang sudah dibelanjakan sedikit akan membuat sisa uang di dalam dompet terasa jauh lebih mudah dihabiskan secara impulsif untuk jajanan kecil atau biaya parkir.

Ditambah lagi, adanya biaya-biaya tersembunyi di era digital saat ini, seperti biaya admin transfer, service fee aplikasi food delivery, hingga kuota data harian yang tanpa disadari terus menggerogoti sisa uang Anda.

Untuk mengatasi fenomena ini, menghemat saja tentu tidak cukup. Oleh karena itu, kita perlu cerdas dalam mengalokasikan dan mengembangbiakkan uang agar nilainya tidak terus digerus zaman.

Langkah awal yang bisa diterapkan adalah mengubah alur pengeluaran dengan prinsip Pay Yourself First, yaitu menyisihkan minimal 10%–20% untuk tabungan atau investasi sebelum uang pecahan besar tersebut dipecah untuk belanja harian. 

Daripada mendiamkan uang di tabungan bank biasa yang tergerus inflasi, alokasikan pecahan Rp100.000 Anda ke instrumen investasi seperti Reksa Dana Pasar Uang, emas digital, atau saham yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif.

Selain itu, terapkan metode budgeting yang ketat dengan memisahkan uang dingin untuk pos kebutuhan, keinginan, dan investasi agar pengeluaran harian tetap terkontrol. Mengingat menekan pengeluaran ada batasnya, fokuslah juga untuk meningkatkan income stream melalui peluang pendapatan tambahan di waktu luang.

Baca Juga: Diintai Perasaan Tertinggal, Benarkah Ada Beban Tak Tertulis Bagi Gen Z di Usia 20-an?

Daya beli uang Rp100.000 memang akan terus menyusut seiring berjalannya waktu, namun dengan mengubah pola pikir dari sekadar konsumen menjadi investor serta memutar uang pecahan kecil ke instrumen produktif, Anda dapat menjaga nilai kekayaan agar tetap utuh dan bermanfaat maksimal.

Editor : Bahana.
Uang Rp100 ribu daya beli tips keuangan inflasi investasi