Isu fatherless kerap dianggap sebagai topik lama, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa sampai saat ini fenomena tersebut masih ada di Indonesia dan menjadi tantangan sosial yang kian nyata.
Fenomena ini tidak hanya merujuk pada anak yang kehilangan sosok ayah secara fisik, tetapi juga kondisi ketika ayah ada di rumah namun absen secara emosional dan tidak terlibat aktif dalam tumbuh kembang anak.
Dampak panjang dari ketidakhadirannya sosok ayah ini ramai diperbincangkan di platform X melalui unggahan akun @0xhanyfa. Dalam catatannya, ia membagikan pengamatannya saat bertemu dengan perempuan yang mengalami fatherless.
Menurutnya, dampak tersebut kerap bermuara pada dua pola perilaku yang ekstrem. Pola pertama adalah menjadi sangat mandiri atau overindependent, selalu berada dalam survival mode, serta kehilangan feminine energy. Sementara pola kedua adalah memiliki anxious attachment, menjadi people pleaser, hingga selalu mencari validasi dari orang lain.
Baca Juga: Kunjungi Istiqlal dan Katedral, Putri Mahkota Swedia soroti toleransi Indonesia
Cuitan tersebut memicu gelombang respons dari warganet yang merasa relate. Salah satunya datang dari akun @infjme yang menyetujui pandangan tersebut sekaligus membagikan pengalaman pribadinya. Ia mengaku mengidap kedua pola tersebut secara bersamaan.
"aku keduanya, baca ini sambil nginget aku pernah ke ugd sendirian karna keracunan makanan," ungkapnya.
Fenomena yang ramai di media sosial ini sejalan dengan data Pendataan Keluarga tahun 2025 dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN.
Data mencatat bahwa persentase fatherless memiliki keterkaitan erat dengan kondisi ekonomi, di mana keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja mencatatkan angka fatherless hingga 63 persen. Angka ini berbanding jauh dengan kepala keluarga yang bekerja yang mencatatkan tingkat fatherless sebesar 24,1 persen.
Selain faktor pekerjaan atau keterpisahan jarak karena merantau, fenomena ini juga masih sangat marak terjadi di kawasan pedesaan. Di daerah yang jauh dari pusat kota, norma sosial yang tebal masih membatasi peran ayah sebatas pencari nafkah.
Masalah ini diperparah oleh rendahnya literasi pengasuhan di kalangan orang tua, terbatasnya akses ke layanan konseling keluarga, serta tingginya kebiasaan masyarakat yang menyerahkan seluruh urusan anak kepada ibu.
Editor : Bahana.