RADAR MALIOBORO - Sering kali ketika sedang jatuh cinta, logika menjadi hal pertama yang diabaikan.
Seseorang cenderung fokus pada sisi positif pasangan dan menganggap sepele berbagai perilaku mengganggu demi mempertahankan hubungan.
Padahal, menjalani hubungan emosional tidak cukup hanya mengandalkan perasaan.
Perasaan memang menghadirkan kenyamanan dan kebahagiaan, tetapi logika tetap dibutuhkan agar hubungan berjalan sehat tanpa mengorbankan jati diri.
Sikap terlalu memaklumi, seperti membiarkan pasangan melanggar batasan pribadi, sering dianggap sebagai dinamika yang bisa diperbaiki nanti.
Baca Juga: Daftar Gunung yang Sedang Erupsi di Indonesia, Semeru dan Anak Krakatau Masih Aktif
Di sinilah logika berperan untuk memberikan pandangan yang lebih obyektif, yaitu mengevaluasi apakah hubungan tersebut membawa rasa dihargai atau justru memicu kelelahan emosional.
Penggunaan logika dalam hubungan bukan berarti menjadi pribadi yang dingin atau kalkulatif.
Logika membantu seseorang membedakan antara cinta yang sehat dan rasa takut akan kehilangan.
Sebab, tidak sedikit orang bertahan hanya karena enggan memulai kembali hubungan dari awal atau terjebak dalam harapan palsu bahwa pasangan akan berubah.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Umrah, Puluhan Jamaah Jatim Terdampak
Pada akhirnya, hubungan yang ideal tidak menuntut untuk memilih antara hati atau logika.
Hati menjadi landasan untuk mencintai, sementara logika berfungsi sebagai pemandu untuk memastikan hubungan tersebut layak dipertahankan atas dasar saling menghormati, komunikasi yang baik, dan kenyamanan bersama.
Editor : Meitika Candra Lantiva