RADAR MALIOBORO – Bagi generasi yang tumbuh bersama TikTok, YouTube, dan layanan streaming musik, menemukan lagu lama bukan sesuatu yang aneh. Di tengah banyaknya lagu baru yang terus bermunculan, musik dari era 1980-an, 1990-an, hingga 2000-an justru kembali terdengar di telinga generasi muda.
Menariknya, sebagian Gen Z bahkan belum lahir ketika lagu-lagu tersebut pertama kali dirilis. Mereka tidak mengalami masa ketika lagu itu menjadi hits. Tidak pernah mendengarkannya melalui radio untuk pertama kali, membeli kasetnya, atau menunggu video klipnya tayang di televisi.
Namun, ketika lagu tersebut muncul kembali di media sosial, mereka bisa ikut menyukai, menyanyikan, bahkan memasukkannya ke dalam playlist.
Di sinilah fenomenanya menjadi menarik. Lagu lama tidak selalu kembali karena orang-orang dari generasi sebelumnya ingin bernostalgia. Lagu tersebut justru bisa menemukan pendengar baru yang berasal dari generasi yang tidak pernah mengalami masa kejayaannya.
Media Sosial Jadi Pintu Masuk
Baca Juga: Jogja Punya Pasar Unik, Mustokoweni Buka Lagi Sabtu Ini, Jangan Sampai Kelewatan
TikTok menjadi salah satu ruang yang membuat perjalanan sebuah lagu berubah. Potongan musik berdurasi beberapa detik dapat digunakan dalam ribuan video dengan cerita dan konteks yang berbeda.
Sebuah lagu lama yang awalnya tidak dikenal bisa tiba-tiba terdengar berulang kali di beranda. Rasa penasaran kemudian membawa pendengar mencari judul dan penyanyinya. Dari sana, lagu tersebut bisa berpindah ke YouTube, Spotify, atau platform musik lainnya.
Algoritma media sosial juga membuat lagu dari berbagai zaman dapat muncul berdampingan. Lagu yang dirilis puluhan tahun lalu bisa saja muncul setelah video menggunakan lagu terbaru.
Bagi Gen Z, perbedaan zaman tersebut bukan menjadi penghalang untuk menikmati musik.
Baca Juga: Bukan Cuma Fangirl! Fanboy TWICE Banjiri Konser, “What is Love?” Bikin Arena Menggelegar
Nostalgia yang Tidak Pernah Dialami
Lantas, apakah Gen Z benar-benar sedang bernostalgia?
Tidak selalu.
Mereka mungkin tidak memiliki kenangan pribadi dengan lagu tersebut. Namun, musik bisa membawa gambaran mengenai suatu masa yang mereka kenal melalui film, serial, foto, fashion, atau cerita dari generasi sebelumnya.
Perasaan itulah yang membuat lagu lama bisa terasa familiar meskipun sebenarnya baru pertama kali didengarkan.
Salah satu contohnya adalah lagu “Running Up That Hill” milik Kate Bush. Lagu yang dirilis pada 1985 tersebut kembali mendapatkan perhatian generasi muda setelah digunakan dalam serial Stranger Things. Setelah muncul dalam serial tersebut, lagu itu kembali ramai dibicarakan dan digunakan dalam berbagai konten digital.
Baca Juga: F1 2027 Bakal Kurangi Jarak Balapan? Ini Alasan di Balik Wacana Pengurangan Lap
Fenomena serupa juga dapat terjadi pada lagu-lagu Indonesia. Musik dari era sebelumnya dapat kembali muncul ketika digunakan sebagai latar video, potongan cerita, meme, atau tren tertentu di media sosial.
Menariknya, ketika sebuah lagu digunakan dalam konteks baru, maknanya pun bisa ikut berubah. Lagu yang dahulu memiliki cerita tertentu dapat dimaknai berbeda oleh pendengar masa kini.
Lagu Lama, Kenangan Baru
Di era digital, usia sebuah lagu tidak lagi menjadi batas. Musik yang sudah lama tersimpan dapat kembali ditemukan kapan saja.
Baca Juga: Menepis Kabar Burung, Seorang Warganet Buat Web Pantau Abu Vulkanik
Bagi generasi sebelumnya, lagu tersebut mungkin mengingatkan pada masa sekolah, kisah cinta, perjalanan, atau momen tertentu. Sementara bagi Gen Z, lagu yang sama bisa menjadi soundtrack untuk pengalaman yang sedang mereka jalani hari ini.
Mereka mungkin tidak pernah hidup di era ketika lagu tersebut pertama kali populer. Namun, mereka tetap bisa menikmati melodinya, memahami liriknya, dan menciptakan kenangan sendiri bersama lagu tersebut.
Pada akhirnya, lagu lama tidak benar-benar kembali ke masa lalu. Ia justru mendapatkan kehidupan baru di masa sekarang.
Sebab, nostalgia ternyata tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang pernah kita alami. Kadang, nostalgia bisa muncul dari sesuatu yang baru kita temukan.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber