RADAR MALIOBORO - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin marak di tengah masifnya penggunaan media sosial, khususnya platform TikTok.
Rasa takut tertinggal ini tidak hanya membuat seseorang terdorong mengikuti tren, tetapi juga sering memicu kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain di layar ponsel.
Pengguna TikTok kerap disuguhkan tayangan kehidupan pengguna lain yang tampak sempurna, mulai dari liburan mewah, karier baru, pembelian barang impian, hingga momen kebahagiaan harian.
Baca Juga: Di Balik Segelas Tuak Batak Karo, Ada Tradisi, Kebersamaan, dan Warisan dari Tanah Karo
Namun, banyak pengguna tidak menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas tanpa memperlihatkan proses, perjuangan, atau kegagalan di baliknya.
Dampak FOMO mulai terasa mengganggu ketika rasa takut tertinggal tersebut mendikte keputusan dan pilihan hidup sehari-hari.
Beberapa indikasi umum yang kerap muncul akibat FOMO di antaranya:
-
Konsumerisme Impulsif: Membeli produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena sedang viral di media sosial.
-
Tekanan Sosial: Memaksa diri mendatangi lokasi atau acara tertentu demi diakui dalam lingkaran pergaulan.
-
Penurunan Rasa Percaya Diri: Merasa alur kehidupan pribadi kurang menarik dibanding pencapaian orang lain.
Baca Juga: 11 Tahun Dendam, Nelayan Sampang Madura Tewas Dibacok Celurit
Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang lebih berfokus pada standar orang lain dibandingkan memahami kebutuhan diri sendiri.
Meskipun demikian, para ahli penikmat media sosial menilai bahwa menyikapi FOMO tidak selalu harus dilakukan dengan menghapus aplikasi atau menarik diri sepenuhnya dari dunia digital.
TikTok dan platform digital lainnya tetap memegang peranan penting sebagai sarana hiburan, sumber informasi, inspirasi, hingga peluang usaha.
Baca Juga: Menteri Koordinator Bidang Pangan Tanggapi Problematika MBG: Manajemen yang Harus Kita Perbaiki
Kunci utama untuk mengatasi dampak negatif FOMO terletak pada kesadaran serta kontrol diri saat mengambil keputusan.
Sebelum memutuskan untuk mengikuti suatu tren atau membeli barang viral, pengguna disarankan untuk berhenti sejenak dan merefleksikan alasan di balik tindakan tersebut.
Langkah sederhana berupa bertanya pada diri sendiri apakah tindakan tersebut murni keinginan pribadi atau sekadar dorongan takut tertinggal dapat membantu memisahkan kebutuhan nyata dari pengaruh luar.
Mengikuti tren media sosial bukanlah hal yang dilarang, selama tidak mengorbankan kenyamanan dan ritme kehidupan pribadi.
Editor : Meitika Candra Lantiva