Pemandangan deretan anak muda yang menghabiskan waktu nongkrong atau work from cafe (WFC) kini menjadi fenomena harian di berbagai tempat.
Menariknya, segelas kopi kekinian seharga Rp25.000 hingga Rp40.000 kini kerap diprioritaskan ketimbang membeli sepiring makanan berat.
Bagi generasi muda, harga tersebut dinilai sepadan dengan fasilitas pendingin udara, suasana estetik, dan koneksi Wi-Fi cepat untuk menunjang produktivitas.
Kedai kopi pun bergeser fungsi menjadi ruang ketiga yang nyaman untuk menunjang produktivitas pengerjaan tugas maupun pekerjaan harian setelah rumah dan area kampus atau kantor.
Baca Juga: Tak Sekadar Booth, SOS Children’s Village’s Suarakan Isu Kekerasan pada Anak di Mal
Tingginya antusiasme anak muda terhadap kebiasaan minum kopi ini juga ramai dibahas di media sosial.
"Baru 2 hari ngga ngopi resah banget rasanya kaya orang bingung," tulis akun @ana.heny.
Demi mempertahankan kebiasaan tersebut, kalkulasi keuangan harian pun rela digeser. Makanan pokok sering kali ditumbalkan dan diganti dengan opsi serba hemat demi menyisakan dana untuk segelas kopi favorit di kafe langganan.
"Duit tinggal 50k juga mikirnya masih bisa buat ngopi makannya indomie aja," tulis akun @slvnzone_.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana prioritas konsumsi di kalangan anak muda telah bertransformasi. Menahan lapar dengan makan seadanya menjadi pilihan yang dinilai realistis.
Bagi mereka, perut lapar bisa ditahan sejenak, namun asupan kafein dan kenyamanan ruang beraktivitas seharian tetap berada di posisi teratas daftar prioritas.
Editor : Bahana.