Lelah Selalu Menyenangkan Orang Lain? Ini 5 Cara Keluar dari People Pleasing

Perawati • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 11:42 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

RADAR MALIOBORO – Keinginan untuk diterima dan disukai orang lain merupakan hal yang wajar. Namun, jika kebiasaan tersebut membuat seseorang terus-menerus mengorbankan kebutuhan dan perasaannya sendiri, kondisi itu dapat berkembang menjadi pola people pleasing.

Orang yang terbiasa menjadi people pleaser sering kali sulit menolak permintaan, memilih diam demi menghindari konflik, atau merasa bersalah ketika mendahulukan dirinya sendiri.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang kelelahan secara emosional. Karena itu, belajar memprioritaskan diri bukan berarti menjadi egois. Justru, hal tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga diri dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Berikut lima langkah yang dapat dicoba untuk perlahan keluar dari kebiasaan people pleasing.

Baca Juga: Rajiv Apresiasi Dog Does Disco 2026, Kampanye Adopsi Hewan Jadi Sorotan

1. Belajar Mengatakan “Tidak”

Mengatakan “tidak” mungkin terasa sulit, terutama bagi mereka yang terbiasa memenuhi keinginan orang lain.

Namun, setiap orang memiliki batas kemampuan. Tidak semua permintaan harus diterima dan tidak semua persoalan orang lain harus menjadi tanggung jawab kita.

Menyadari bahwa diri sendiri memiliki keterbatasan dapat membantu mengurangi beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul.

Menolak sesuatu yang berada di luar kemampuan bukan berarti tidak peduli. Terkadang, mengatakan “tidak” justru menjadi cara untuk menjaga kondisi diri agar tetap mampu menjalani tanggung jawab yang memang menjadi bagian kita.

2. Jangan Takut Menyampaikan Pendapat

Menghindari perdebatan memang bisa membuat situasi terasa lebih tenang. Tetapi, terlalu sering mengalah juga dapat membuat seseorang terbiasa mengabaikan perasaan dan pendapatnya sendiri.

Cobalah mulai menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dengan cara yang tenang dan tetap menghargai orang lain.

Memiliki pendapat berbeda bukan berarti harus bermusuhan. Sebaliknya, keberanian menyampaikan perasaan merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

3. Pahami bahwa Orang Bisa Datang dan Pergi

Salah satu alasan seseorang menjadi people pleaser adalah rasa takut kehilangan orang lain.

Padahal, sekeras apa pun kita berusaha membuat seseorang bahagia, tidak ada jaminan hubungan tersebut akan berlangsung selamanya.

Setiap orang memiliki perjalanan dan pilihan masing-masing. Ada yang bertahan dalam hidup kita, ada pula yang akhirnya pergi.

Memahami hal tersebut dapat membantu kita berhenti menghabiskan terlalu banyak energi hanya untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Gelar Bootcamp Road To Cari Aman Academy, Siapkan School Safety Riding Adviso

4. Sesekali Utamakan Diri Sendiri

Mendahulukan kebutuhan diri tidak otomatis membuat seseorang egois.

Bayangkan sebuah gelas yang terus digunakan untuk mengisi gelas orang lain, sementara tidak pernah diisi kembali. Pada akhirnya, gelas tersebut juga akan kosong.

Begitu pula dengan diri sendiri. Kita perlu memberi waktu untuk beristirahat, memenuhi kebutuhan pribadi, dan menjaga kondisi emosional sebelum terus memberikan energi kepada orang lain.

Merawat diri merupakan bagian penting agar kita tetap memiliki energi untuk menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

5. Tetapkan Batasan yang Sehat

Boundaries atau batasan pribadi membantu seseorang menentukan hal-hal yang bisa diterima dan yang tidak.

Memiliki batasan bukan berarti menjadi pribadi yang dingin, keras, atau tidak peduli. Justru, batasan yang jelas dapat membantu orang lain memahami bagaimana seharusnya memperlakukan kita.

Mulailah dari hal-hal sederhana. Misalnya, berani menolak ketika sedang tidak memiliki waktu atau tenaga, meminta ruang ketika membutuhkan waktu sendiri, dan menyampaikan ketidaknyamanan ketika seseorang melewati batas.

Dengan begitu, hubungan yang dibangun dapat berlangsung dengan rasa saling menghargai.

Baca Juga: Korea Punya Japgokbap, Indonesia Punya Nasi Rambeuy, Warisan Pangan Lokal dari Tatar Sunda 

Keluar dari kebiasaan people pleasing tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Diperlukan proses untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan yang sudah lama terbentuk.

Namun, langkah kecil seperti belajar berkata “tidak”, berani menyampaikan pendapat, menerima bahwa orang bisa datang dan pergi, memenuhi kebutuhan diri, serta menetapkan batasan dapat menjadi awal untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat.

Pada akhirnya, menjaga diri bukan berarti berhenti peduli kepada orang lain. Kita hanya belajar untuk tidak kehilangan diri sendiri ketika berusaha menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.

 

Editor : Bahana.
self care boundaries people pleaser people pleasing kesehatan mental