Doomscrolling: Kenapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk?

Syofiyanti Ningsi Dg Parany • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:56 WIB
Doomscrolling on Social Media. (Dok Pinterest)
Doomscrolling on Social Media. (Pinterest)

 

RADAR MALIOBORO - Niatnya hanya mengecek ponsel sebentar sebelum tidur.

Namun, tanpa sadar satu jam berlalu dengan membaca berita bencana, konflik, hingga kasus kriminal.

Pikiran makin cemas, tetapi jari terus menggulir layar.

Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling.

Doomscrolling adalah kebiasaan terus membaca atau menonton konten negatif di media sosial, meski membuat suasana hati memburuk.

Kebiasaan ini semakin dikenal sejak pandemi COVID-19, ketika arus informasi dan kabar buruk membanjiri ruang digital.

Baca Juga: Travel Creator Italia Cari Eva, Gadis Lombok yang Viral Tembus 8 Juta Views

Ada beberapa alasan mengapa seseorang sulit berhenti melakukan doomscrolling.

1. Otak fokus pada ancaman. Informasi negatif lebih mudah menarik perhatian karena otak cenderung waspada terhadap bahaya.

2. Ingin mencari kepastian. Membaca berita membuat kita merasa lebih siap, tetapi informasi berlebihan justru bisa memicu kecemasan baru.

3. Terjebak rasa penasaran. Konten yang terus berganti membuat kita ingin menggulir layar lagi, berharap menemukan informasi penting.

4. Algoritma media sosial. Konten yang memancing emosi dapat terus muncul di linimasa, membuat kita sulit lepas dari berita negatif.

5. Takut ketinggalan informasi. Dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan membuat kita terus memeriksa ponsel, meski tidak ada informasi mendesak.

Baca Juga: Ditahan Imbang de Red FC 0-0, Penyelesaian Akhir Jadi PR PERSIS Solo

Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Mental

Terus-menerus terpapar berita negatif dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Jika berlangsung berlebihan, kebiasaan ini juga bisa mengganggu tidur, menurunkan konsentrasi, dan membuat seseorang lebih mudah lelah secara emosional.

Dunia pun bisa terasa lebih menakutkan daripada kenyataannya karena perhatian terus tertuju pada kejadian buruk.

Saat dilakukan menjelang tidur, doomscrolling juga membuat pikiran sulit tenang sehingga waktu istirahat berkurang.

Dampaknya berbeda pada setiap orang, tetapi kebiasaan ini perlu diwaspadai ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Lari dari Malioboro, Nikmati Ketenangan Alam di Kopi Ingkar Janji Kulon Progo

Berhenti mengikuti berita bukan solusinya. Yang perlu diubah adalah cara kita mengonsumsi informasi.
•    Batasi waktu membaca berita. Tentukan jadwal khusus agar tidak terus memeriksa ponsel.
•    Hindari media sosial sebelum tidur. Beri jeda 30–60 menit sebelum beristirahat.
•    Matikan notifikasi yang tidak penting. Buka berita saat dibutuhkan, bukan setiap kali layar berbunyi.
•    Pilih sumber tepercaya. Hindari membaca kabar yang sama berulang kali dari berbagai akun.
•    Kenali kapan harus berhenti. Jika mulai merasa cemas atau gelisah, letakkan ponsel dan alihkan perhatian ke aktivitas lain.

Jika kebiasaan ini terus mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan sosial, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental, terutama jika kecemasan sulit dikendalikan.

Baca Juga: Trik Mudah Mengolah Pare Agar Tidak Pahit dan Lebih Lezat Saat Dimasak

Doomscrolling terjadi ketika rasa ingin tahu dan kewaspadaan terhadap ancaman bertemu dengan media sosial yang terus menyajikan konten baru.

Akibatnya, kita bisa terjebak membaca kabar buruk tanpa merasa lebih tenang.

Mengikuti perkembangan memang penting, tetapi tidak semua berita harus dibaca saat itu juga.

Terkadang, cara terbaik menjaga diri adalah berhenti menggulir layar dan memberi pikiran waktu untuk beristirahat.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
doomscrolling Ruang digital membaca berita buruk kebiasaan ponsel