RADAR MALIOBORO - Komik Asia Timur kini memiliki tempat istimewa di hati pembaca dunia.
Istilah manga, manhwa, dan manhua sudah tidak asing di telinga para penggemar komik, bahkan di lingkup internasional.
Ketiganya tidak lagi dipandang sebagai bacaan khas negara tertentu, melainkan sebagai hiburan visual yang mampu menjangkau lintas budaya dan generasi.
Dari remaja hingga dewasa, dari pembaca kasual hingga penggemar setia, manga, manhwa, dan manhua berhasil membangun komunitas penggemar yang luas berkat kekuatan cerita dan gaya visual yang khas.
Meski sering dianggap serupa, manga, manhwa, dan manhua sebenarnya memiliki latar belakang, gaya penyajian, serta karakter cerita yang berbeda.
Perbedaan inilah yang justru membuat ketiganya tetap relevan dan terus berkembang di tengah persaingan industri komik global.
Asal-usul Istilah Manga, Manhwa, dan Manhua
Melansir dari CBR.com, secara bahasa istilah manga dan manhwa berasal dari kata Tiongkok “manhua” yang berarti gambar spontan atau sketsa bebas.
Dalam perkembangannya, istilah tersebut kemudian digunakan secara spesifik untuk menandai komik berdasarkan negara asal.
Manga merujuk pada komik Jepang, manhwa berasal dari Korea Selatan, sementara manhua digunakan untuk komik dari China, Taiwan, dan Hong Kong.
Seiring waktu, masing-masing negara mengembangkan gaya dan pendekatan tersendiri.
Sejarah, kondisi sosial, serta kebijakan politik di tiap wilayah turut membentuk karakter visual dan narasi yang membedakan ketiganya.
Perkembangan Manga, Manhwa, dan Manhua di Tingkat Global
Manga menjadi bentuk komik Asia Timur yang paling awal dikenal secara global.
Popularitasnya di Jepang melonjak sejak pertengahan abad ke-20 dan mulai menembus pasar internasional pada akhir 1980-an.
Kesuksesan manga kemudian membuka jalan bagi komik Asia Timur lainnya untuk ikut dikenal pembaca dunia.
Manhwa memiliki perjalanan yang lebih berliku.
Setelah sempat berkembang pesat, industri ini mengalami kemunduran akibat kebijakan sensor ketat pada 1960-an.
Kebangkitan manhwa baru benar-benar terasa ketika Korea Selatan memperkenalkan webtoon digital pada awal 2000-an.
Melansir dari Hindustan Times, kehadiran platform seperti Naver dan Daum membuat manhwa mudah diakses melalui ponsel dan dibaca secara gratis yang pada akhirnya mendorong lonjakan penggemar internasional.
Sementara itu, manhua berkembang di tengah tantangan yang berbeda.
Faktor politik dan regulasi ketat membuat banyak karya sulit dipublikasikan secara luas ke luar negeri.
Meski demikian, platform digital dan adaptasi donghua atau animasi buatan Tiongkok perlahan membantu manhua menemukan pembacanya sendiri di pasar global.
Perbedaan Gaya Visual dan Cara Membaca
Perbedaan lain yang paling terasa bagi pembaca terletak pada gaya visual dan cara membaca. Manga identik dengan gambar hitam putih dan dibaca dari kanan ke kiri.
Manhwa versi cetak memiliki kemiripan dengan manga, tetapi versi digitalnya tampil penuh warna dan dibaca secara vertikal dari atas ke bawah.
Manhua modern juga banyak hadir dalam format digital berwarna dengan sistem scroll tanpa batas.
Format vertikal tersebut memberi kebebasan lebih bagi kreator untuk menampilkan gerakan, jeda waktu, serta suasana dramatis yang sulit diwujudkan dalam format cetak tradisional.
Inilah salah satu alasan mengapa komik digital, khususnya webtoon, terasa lebih dinamis dan mudah dinikmati pembaca modern.
Perbedaan Tema Cerita Berdasarkan Budaya Asal
Dari sisi cerita, manga, manhwa, dan manhua sangat dipengaruhi oleh budaya tempat mereka berkembang.
Manga kerap mengangkat tema fantasi, kekuatan supernatural, dan perjalanan pahlawan.
Manhwa banyak menyoroti kehidupan modern, standar kecantikan, relasi sosial, hingga fantasi bergaya permainan.
Sementara itu, manhua dikenal dengan kisah bela diri, dunia persilatan, dan kultivasi yang berakar pada mitologi serta sastra klasik China.
Popularitas ketiganya juga tercermin dari karya-karya yang sudah dikenal luas oleh pembaca global.
Dari Jepang, manga One Piece karya Eiichiro Oda menjadi salah satu judul paling ikonik. Dari Korea Selatan, manhwa The God of High School karya Park Yong-je, sementara dari China, manhua God of Martial Arts karya Yunduowudongman, turut menunjukkan kuatnya daya tarik komik Asia Timur di kancah internasional.
Penggemar Luas dari Berbagai Kalangan
Manga, manhwa, dan manhua tidak hanya menyasar satu kelompok usia atau minat tertentu.
Ada cerita untuk anak-anak, remaja, hingga pembaca dewasa, dengan genre yang sangat beragam.
Romansa, aksi, horor, hingga kisah cinta sesama jenis dapat ditemukan di ketiganya.
Namun, manhua dikenal lebih ketat dalam hal sensor, terutama terkait penggambaran hubungan romantis. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva