RADAR MALIOBORO – Kejutan besar melanda pasar keuangan global pada Kamis (12/2/2026) sore waktu AS. Dalam waktu singkat hanya 90 menit, kapitalisasi pasar berbagai aset amblas lebih dari $3,6 triliun (setara sekitar Rp 57.000 triliun dengan kurs saat ini), menandai salah satu market rout tercepat dan terbesar dalam sejarah terkini.
Menurut data yang beredar luas di platform X dari akun @Airdropfinds, komunitas airdrop terbesar di Indonesia, penurunan dramatis ini melanda hampir semua kelas aset utama:
- Emas anjlok 3,76%, menghapus nilai sekitar $1,34 triliun dari kapitalisasi pasar globalnya.
- Perak merosot tajam 8,5%, dengan kerugian mencapai $400 miliar.
- Indeks S&P 500 turun 1%, menghilangkan $620 miliar.
- Nasdaq jatuh lebih dalam 1,6%, lenyap $600 miliar.
- Pasar kripto secara keseluruhan melemah 3%, dengan hilangnya nilai sekitar $70 miliar.
Fenomena ini dipicu oleh aksi jual panik yang diperparah algoritma trading otomatis (algo trading), terutama setelah data ekonomi AS menunjukkan kekuatan tenaga kerja yang mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Banyak analis menyebut ini sebagai liquidity squeeze massal, di mana investor dan trader terpaksa menjual aset likuid—termasuk emas dan perak yang biasanya dianggap safe haven—untuk memenuhi margin call atau mengamankan posisi.
Yang mengejutkan, emas dan perak—yang selama ini kerap naik saat pasar saham jatuh—justru ikut tertekan keras dan bergerak searah (korelasi positif) dengan ekuitas. Hal ini menunjukkan tingkat kepanikan yang luar biasa tinggi di kalangan pelaku pasar global.
"Sepertinya warna merah menjadi warna cinta hari ini," tulis @Airdropfinds dengan nada satir di unggahannya yang viral, disertai chart candlestick merah menyala di berbagai aset.
Hingga Jumat pagi (13/2/2026) WIB, volatilitas masih tinggi. Harga emas dunia spot sempat bertahan di kisaran $4.900–$5.000 per ons, sementara perak berfluktuasi tajam di bawah $83 per ons. Di Indonesia, harga emas Antam dan UBS diperkirakan ikut terdampak meski perdagangan lokal belum sepenuhnya mencerminkan pergerakan ekstrem global.
Para pelaku pasar di Tanah Air diminta waspada terhadap potensi efek lanjutan ke IHSG pada pembukaan Senin mendatang. Banyak investor ritel dan institusi lokal yang memiliki eksposur ke aset global berpotensi merasakan tekanan serupa. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin