Pendiri Solana Sentil Bos AI: Rem Pengembangan Teknologi karena Kejar Untung Triliunan?

Bahana. • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 11:10 WIB
Pendiri blockchain Solana, Anatoly Yakovenko
Pendiri blockchain Solana, Anatoly Yakovenko

Pendiri blockchain Solana, Anatoly Yakovenko, ikut menanggapi wacana perlambatan pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang belakangan disuarakan sejumlah pimpinan perusahaan teknologi besar.

Yakovenko menyindir seruan tersebut dengan mengaitkannya dengan kepentingan bisnis perusahaan AI yang kini memiliki valuasi sangat besar.

Komentar itu muncul setelah CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan pemilik xAI Elon Musk sama-sama menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko pengembangan AI yang semakin maju.

Amodei bahkan menerbitkan manifesto berjudul We Must Pace the Frontier. Dalam tulisan tersebut, ia menyerukan agar pengembangan teknologi AI terdepan dilakukan dengan lebih hati-hati dan mempertimbangkan potensi risikonya.

Baca Juga: Lawan Gengsi, Gen Z Makin Asyik Setel Dangdut Buat Usir Stres dan Kantuk

Yakovenko menanggapi manifesto tersebut melalui akun X miliknya dengan komentar singkat yang bernada satire. Ia menulis, "Profitability at $1 trillion mcap" atau kurang lebih bermakna bahwa perusahaan mulai memikirkan profitabilitas setelah mencapai kapitalisasi pasar USD 1 triliun.

Tak berhenti di situ, salah satu pendiri Solana tersebut kembali mengunggah komentar terkait penggunaan teknologi AI. Ia mengatakan telah meminta Codex miliknya untuk menggunakan token secara lebih hemat. Pernyataan tersebut tampaknya menjadi sindiran terhadap seruan untuk mengerem pengembangan AI.

Soroti Beban Infrastruktur AI

Di balik seruan perlambatan tersebut, Yakovenko seolah melihat adanya persoalan ekonomi yang lebih besar. Perusahaan AI saat ini harus menghadapi kebutuhan infrastruktur yang terus membengkak, terutama untuk chip komputasi dan konsumsi energi.

Pengembangan model AI generasi terbaru membutuhkan investasi besar. Di sisi lain, perusahaan yang telah mencapai valuasi sangat tinggi mulai menghadapi tekanan untuk menunjukkan jalur menuju keuntungan.

Pandangan tersebut juga mendapat respons dari David Sacks, mantan penasihat Gedung Putih untuk urusan AI dan kripto.

Sacks mempertanyakan alasan perusahaan AI mendorong regulasi yang berlaku secara luas jika kekhawatiran utama mereka memang menyangkut keselamatan teknologi.

Menurutnya, apabila OpenAI atau Anthropic benar-benar menganggap pengembangan AI terbaru terlalu berbahaya, kedua perusahaan tersebut sebenarnya dapat menghentikan atau memperlambat riset mereka secara mandiri.

Sacks menilai dorongan terhadap regulasi industri secara menyeluruh justru berpotensi memberikan keuntungan bagi pemain besar.

Salah satu risikonya adalah perusahaan rintisan dan pengembang AI berbasis sumber terbuka kesulitan memenuhi aturan yang semakin ketat. Kondisi itu berpotensi mengurangi persaingan dan memperkuat posisi perusahaan besar seperti OpenAI dan Anthropic.

China Jadi Persoalan

Sacks juga menilai gagasan mengenai penghentian pengembangan AI secara global sulit diwujudkan.

Baca Juga: Gemerlap Serpenti Infinito di New York Fashion Week 2026, Lisa BLACKPINK hingga Dua Lipa Curi Perhat

Salah satu alasannya adalah posisi China yang belum tentu bersedia mengikuti kesepakatan serupa. Jika perusahaan AI Amerika Serikat membatasi pengembangan teknologi sementara kompetitor dari China tetap bergerak, langkah tersebut justru berpotensi membuat AS kehilangan keunggulan teknologi.

Di tengah perdebatan tersebut, pasar keuangan sejauh ini belum menunjukkan kepanikan besar. Investor tampaknya tidak serta-merta menganggap perlambatan pengembangan model AI sebagai ancaman terhadap investasi di sektor infrastrukturnya.

Pasalnya, perlambatan pengembangan model AI tidak selalu berarti investasi pada pusat data, chip, dan infrastruktur komputasi akan berhenti.

Skenario yang lebih mungkin terjadi adalah perubahan ritme belanja. Pengadaan perangkat dan pembangunan infrastruktur AI dapat berlangsung lebih bertahap sehingga siklus investasi menjadi lebih panjang.

Dengan demikian, perdebatan mengenai keamanan dan kecepatan pengembangan AI kini tidak hanya menyangkut persoalan teknologi. Di baliknya terdapat pertarungan kepentingan bisnis, kebutuhan investasi, persaingan global, hingga upaya perusahaan mempertahankan valuasi yang telah mencapai level sangat tinggi.

Editor : Bahana.
Solana Anatoly Yakovenko Sam Altman kecerdasan buatan elon musk