Di tengah derasnya arus musik pop dengan lirik ringan dan nada yang mudah viral di media sosial, satu band yang menawarkan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak datang dengan sensasi, tetapi dengan kejujuran. Ia tidak mengejar popularitas instan, tetapi menyentuh lewat makna.
Dialah Perunggu, band rock alternatif asal Jakarta yang belakangan ini banyak mencuri perhatian anak muda.
Perunggu beranggotakan Maul Ibrahim (vokal dan gitar), Adam Adenan (bass, piano, keyboard), dan Ildo Hasman (drum).
Band ini beridri pada tahun 2019 dari rutinitas latihan musik sepulang kantor, kebiasaan sederhana yang akhirnya menjadi langkah awal perjalanan karir musik yang kini banyak dikagumi.
“Sejak album Memorandum dirilis pada 2022, banyak pendengar yang menemukan cermin dari hidup mereka sendiri di dalam lirik, suasana dan kisah-kisahnya. Ada yang merasa dimengerti, ada yang merasa ditemani, ada yang merasa tidak lagi sendirian” tulis folkslokal dalam unggahan Instagramnya (10/11/2025).
Lirik-lirik lagu Perunggu memuat narasi yang akrab dengan keseharian pendengarnya: tentang kehilangan, pencarian jati diri, pergulatan batin, dan proses menjadi dewasa.
Melalui lagu-lagu seperti Kalibata 2012, Ini Abadi, Biang Lara, Pikiran yang Matang, Pastikan Riuh Akhiri Malammu hingga 33x, mereka berbicara tanpa basa-basi-jujur, apa adanya, dan penuh perasaan.
“Tiga tahun berselang, album Dalam Dinamika datang dengan cerita yang lebih luas, tentang naik turunnya hidup. Kami percaya, beberapa tahun dari sekarang album ini akan dikenang sebagai salah satu penanda perjalanan banyak orang,” tambahnya.
Akhir-akhir ini lagu yang banyak viral di sosial media adalah 33x. Lagu ini menjadi semacam mantra bagi mereka yang sedang lelah atau bernostalgia melihat orang-orang berada dalam posisi yang dulu kita rasakan. Penggalan liriknya yang berbunyi:
“Kami pernah di situ, di posisimu, helakan kesahmu,” telah menjadi kutipan populer di berbagai unggahan media sosial.
Lirik itu seolah mewakili suara teman yang memahami, bukan menghakimi.
Ada kehangatan yang tulus, sekaligus pengakuan bahwa setiap orang berhak merasa lelah.
Pesan “kami pernah di situ” terasa seperti pelukan bagi mereka yang sedang berjuang di fase hidup yang berat, dan kalimat “helakan kesahmu” menjadi ajakan untuk melepaskan beban dengan cara yang manusiawi.
“Mungkin satu-satunya band yang punya fanbase grup isinya gak cuma info konser tapi juga info lowongan pekerjaan dan ruang keluh kesan kehidupan,” tulis @dinarmukt, salah satu pendengar mereka di kolom komentar. Kalimat itu seolah menggambarkan apa yang membuat Perunggu begitu dekat dengan hati banyak orang.
Di era ketika musik sering dijadikan pelarian untuk hiburan cepat, Perunggu justru mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dan merenung. Musik mereka bukan sekadar pengisi ruang hampa, tapi ruang perenungan tempat orang bisa merasa “dipahami”.
Tanggal 22 November 2025 nanti, Perunggu akan menggelar “Pertunjukan Dalam Dinamika”, sebuah perayaan untuk album kedua mereka. Acara ini akan di gelar di Bali United Studio, Jakarta Barat.
Nantinya Perunggu akan membawakan seluruh lagu dari album Dalam Dinamika dan beberapa lagu pilihan dari album Memorandum dengan total penampilan 90 menit.
“Ini adalah perayaan perubahan, keberanian dan proses tumbuh bersama pendengarnya.” Tutup Folkslokal.
Kini, di tengah kebisingan digital dan derasnya arus tren musik viral, kehadiran Perunggu menjadi bukti bahwa kejujuran masih punya ruang di industri musik.
Lagu-lagu mereka bukan sekadar nada yang lewat di telinga, tapi gema yang menetap di hati.
Bagi banyak anak muda, karya-karya Perunggu bukan hanya sekadar lagu.
Mereka adalah teman perjalanan-yang hadir di malam panjang penuh kegelisahan, yang menemani di perjalanan pulang, dan yang mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa rapuh sesekali.
Muhtar Dinata