Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Dialog Budaya Jalin Nada Nusantara di ISI Yogyakarta, Menyulam Rasa Musik Tradisi Lintas Daerah

Magang Radar Malioboro • Senin, 15 Desember 2025 | 00:49 WIB
Dialog Budaya Jalin Nada Nusantara di ISI Yogyakarta, Menyulam Rasa Musik Tradisi Lintas Daerah
Dialog Budaya Jalin Nada Nusantara di ISI Yogyakarta, Menyulam Rasa Musik Tradisi Lintas Daerah

JOGJA – Ruang dialog budaya kembali dihadirkan melalui kegiatan Menjalin Rasa Melalui Nada Nusantara, hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program Jalin Nada Nusantara Selendang Sutera yang mempertemukan ragam tradisi musik Nusantara dalam satu ruang perjumpaan yang setara dan dialogis.

 

Mengusung format diskusi terbuka dan berbagi pengalaman, dialog budaya bertajuk Pelestarian dan Komposisi Musik Nusantara ini menghadirkan akademisi, seniman daerah peserta Selendang Sutera, mahasiswa, serta komunitas musik.

Forum yang digelar Kamis (20/11) di Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta tersebut dirancang sebagai ruang bertukar gagasan lintas latar belakang untuk memperkuat keberlanjutan musik tradisi di tengah dinamika zaman.

 

Dalam dialog tersebut, para narasumber dari Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta memaparkan pengalaman riset lapangan sekaligus praktik penciptaan komposisi musik yang berakar pada tradisi Nusantara. Diskusi berlangsung cair, membuka ruang refleksi sekaligus kritik atas kondisi musik etnik saat ini.

 

Salah satu isu utama yang mengemuka ialah tantangan pelestarian musik tradisi di era globalisasi. Perubahan selera generasi muda, keterbatasan ruang tampil, hingga minimnya dokumentasi menjadi persoalan yang masih dihadapi banyak daerah dalam menjaga keberlangsungan warisan bunyi Nusantara.

Selain itu, dialog juga menyoroti pentingnya revitalisasi dan inovasi melalui pendidikan musik tradisi. Pendidikan dinilai menjadi kunci dalam menanamkan pemahaman nilai, konteks budaya, serta etika musikal, bukan sekadar penguasaan teknis memainkan alat musik.

 

Praktik komposisi kontemporer berbasis kearifan lokal turut menjadi bahasan menarik. Para narasumber menegaskan bahwa inovasi tidak harus memutus akar tradisi, melainkan dapat tumbuh dari pemahaman mendalam terhadap struktur musikal, filosofi, dan fungsi sosial musik tradisi itu sendiri.

 

Dialog budaya ini menjadi ruang “menyulam rasa” yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman lapangan para seniman daerah. Semangat gotong royong budaya terasa kuat ketika peserta saling berbagi cerita, metode, hingga kegelisahan dalam menjaga tradisi agar tetap hidup dan relevan.

Salah satu pembicara dialog budaya, Dosen Jurusan Etnomusikologi FSP ISI Yogyakarta, Ela Yulaeliah, menilai kegiatan Jalin Nada Nusantara Selendang Sutera berjalan sangat baik. Menurutnya, antusiasme peserta terlihat sejak pembukaan hingga sesi dialog budaya yang berlangsung interaktif.

 

“Saya melihat acara ini sangat bermanfaat dan bisa dikatakan berhasil. Peminatnya banyak dan antusiasme peserta luar biasa. Jumlah peserta dari awal hingga akhir tetap, itu menunjukkan ketertarikan yang tinggi,” ujar Ela.

 

Ela juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan DIY yang telah berkolaborasi dan mempercayakan Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta untuk terlibat aktif. Ia berharap dialog budaya semacam ini dapat terus berlanjut sebagai upaya membangun jejaring antarpraktisi, akademisi, dan komunitas seni dalam memajukan musik tradisi sebagai ekspresi hidup kebangsaan. 

Editor : Heru Pratomo
#Nada Nusantara Live #Selendang Sutera #dialog budaya #Musik Tradisi #ISI Yogyakarta #dinas kebudayaan diy