YOGYAKARTA—Program Workshop dan Dialog Budaya Jalin Nada Nusantara yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bersama Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta sukses menjadi ruang pembelajaran budaya yang komprehensif bagi generasi muda. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 19–20 November 2025, ini dinilai berhasil mempertemukan peserta dalam proses dialog, praktik, dan kolaborasi musik tradisi nusantara.
Kepala Seksi Seni Pertunjukan Dinas Kebudayaan DIY, Zita Uttungga Dewi Maharani, mengatakan kegiatan tersebut memberi pengalaman estetik sekaligus pengetahuan kebudayaan yang bermakna bagi peserta Selendang Sutera. Melalui rangkaian dialog budaya dan workshop, peserta tidak hanya belajar teknik musikal, tetapi juga memahami nilai filosofis dan konteks sosial di balik musik tradisi dari berbagai daerah.
“Musik tradisi kami dorong untuk dipahami bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sebagai jembatan persatuan, identitas, dan ruang kreativitas generasi muda. Keberhasilan kegiatan ini terlihat dari antusiasme peserta dalam berdiskusi, berlatih, hingga berkolaborasi lintas daerah," tutur Zita.
Selendang Sutera sebagai subkegiatan dalam program ini dirancang khusus untuk mempertemukan generasi muda Nusantara dalam ruang pembelajaran yang dialogis dan eksploratif. Tahun ini, format kegiatan dikembangkan menjadi Workshop dan Dialog Budaya Jalin Nada Nusantara dengan fokus pada pengenalan ragam musik tradisi sebagai media perekat identitas dan pembangunan karakter.
Beragam kekayaan musik Nusantara mulai dari gamelan, talempong, angklung hingga alat musik tradisional lainnya menjadi materi utama pembelajaran. Peserta diajak mendalami keunikan setiap tradisi sekaligus menemukan titik temu dalam kolaborasi musikal yang harmonis.
Pelaksanaan kegiatan di Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta berlangsung dinamis. Sesi dialog budaya menghadirkan akademisi, seniman, dan budayawan yang mengupas filosofi musik tradisi, musik sebagai penanda identitas budaya, hingga tantangan pelestarian seni tradisi di tengah perubahan zaman.
Keberhasilan program ini juga tercermin dari hasil akhir kegiatan. Peserta mampu menghadirkan komposisi pendek yang memadukan unsur musik dari berbagai daerah secara kreatif. Kolaborasi tersebut menunjukkan kemampuan peserta dalam mengolah perbedaan menjadi kekuatan artistik.
Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran peserta akan peran mereka sebagai agen pelestari budaya. Jejaring seni lintas daerah pun terbentuk, membuka peluang kolaborasi berkelanjutan di masa depan.
' Semangat Jalin Nada Nusantara diharapkan tidak berhenti pada kegiatan ini saja. Kami juga berharap para peserta membawa nilai toleransi, semangat pelestarian, dan kecintaan terhadap musik tradisi ke berbagai ruang berkesenian dan kehidupan sosial,” pungkasnya.
Editor : Heru Pratomo