“Shoegaze Saved My Life” juga sebagai bentuk ungkapan dan pengekspresian diri.
Kalimat ini dikaitkan dengan aliran musik shoegaze, aliran musik yang dikenal melankolis, atmosferik, yang bagi sebagian pendengarnya dianggap mampu menemani kondisi emosial tertentu.
Bagi banyak pengguna media sosial ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana musik menjadi teman dan ruang aman yang menyelamatkan mereka ketika sedang merasa lelah, hampa, bahkan ketika sedang mengalami tekanan dalam hidupnya.
Shoegaze sendiri adalah subgenre rock alternatif yang muncul di Inggris pada akhir 1980-an, dan terkenal dengan ciri suara gitar yang berlapis efek distorsi, reverb, dan vokal samar yang sering kali tenggelam dalam musiknya.
Nama shoegaze sendiri tercipta dari kebiasaan musisi menatap lantai (sepatu mereka) saat tampil karena banyaknya efek gitar yang mereka gunakan.
Shoegaze kerap dianggap menjadi teman pendengarnya ketika butuh istirahat sejenak tanpa harus mencari semua jawaban dari pikiran yang terlintas dan juga perasaan yang dialami.
Di Indonesia, genre Shoegaze juga berkembang melalui berbagai band idependen.
Beberapa nama seperti The Milo, Enola, Sunlotus, Fleuro kerap disebut sebagai skena shoegaze lokal.
Kehadiran mereka menjukkan bahwa shoegaze memiliki pendengar dan ruang sendiri di Indonesia.
Media sosial sangat berperan dalam mempopulerkan kembali ungkapan “Shoegaze Saved My Life”. Dan banyak dari mereka yang juga ikut serta membuat tren tersebut karena merasa terselamatkan.
Dari fenomena ini, shoegaze hadir sebagai pengalaman, bukan sekedar genre musik saja.
Penulis: Kinesha Puspa Adilla
Editor : Bahana.