Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Peach: Band Hardcore Punk Asal Medan yang Menantang Maskulinitas Skena Musik Keras

Bahana. • Rabu, 7 Januari 2026 | 19:10 WIB

Personel Peach - Instagram / @peachoftoday
Personel Peach - Instagram / @peachoftoday
Peach adalah band hardcore punk asal Medan, Sumatera Utara, yang sejak akhir 2022 menarik perhatian skena musik underground Indonesia.

Mengusung musik cepat dan keras, Peach tidak hanya hadir sebagai unit hardcore punk, tetapi juga membawa narasi sosial tentang pengalaman perempuan, resistensi terhadap dominasi maskulinitas, serta pentingnya ruang aman di dalam komunitas musik keras.

Perjalanan Peach semakin menguat lewat rilis single “Caged”, EP “Nisha”, album penuh “Fire Walk With Me”, rangkaian tur Asia Tenggara, hingga tampil dalam Synchronize Fest 2025, salah satu festival musik terbesar di Indonesia.

Kehadiran mereka di festival lintas genre tersebut menandai perluasan jangkauan Peach dari ruang underground ke panggung nasional.

Hardcore Punk dari Medan

Peach terbentuk pada Agustus 2022 di Medan, kota yang selama ini jarang disorot sebagai pusat skena hardcore.

Seluruh personel Peach merupakan perempuan, Marsha (Vokal), Maddie (Gitar), Sarah (Bass) dan Lesly (Drum), sebuah fakta yang secara langsung membentuk identitas dan posisi band ini di tengah kultur hardcore yang masih didominasi laki-laki.

Secara musik, Peach bergerak dalam hardcore punk dengan tempo cepat, agresif, dan vokal penuh emosi.

Namun, kekuatan utama mereka terletak pada lirik yang sarat pengalaman personal dan refleksi sosial. Single “Caged” menjadi pernyataan awal Peach dari segi emosionalnya.

Sementara EP “Nisha” yang dirilis pada Januari 2023 memuat lima lagu, EP ini memperlihatkan sisi Peach yang lebih reflektif tanpa kehilangan karakter keras khas hardcore punk.

Setelah EP Nisha, Peach merilis album Fire Walk With Me, sebuah karya yang memperlihatkan perkembangan musik mereka ke arah yang lebih matang.

Album ini menghadirkan durasi dan lebih panjang. Fire Walk With Me dibuka dengan lagu tentang kehilangan seseorang yang ia cintai, dilanjutkan tentang masa-masa sulit, dan yang sangat personal dalam emosinya, menjadikannya album yang tidak hanya keras secara musik, tetapi juga kuat ceritanya.

Di 2023, Peach menjalani tur Asia Tenggara dengan tampil di sejumlah kota seperti Batam, Johor Bahru, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Dan juga menjalankan tour album mereka di 2025 kemarin. Pengalaman tur ini memperkenalkan Peach di skena yang lebih besar sekaligus memperlihatkan bahwa isu keamanan dan kenyamanan perempuan di ruang konser masih menjadi tantangan nyata, baik di dalam maupun luar negeri.

Peach memasuki panggung yang lebih luas ketika mereka menjadi salah satu penampil di Synchronize Fest 2025.

Festival musik tahunan yang dikenal sebagai ruang pertemuan musisi lintas genre di Indonesia.

Hadirnya Peach di Synchronize Fest menunjukkan bahwa band hardcore punk dari Medan ini sudah melampaui batas underground, serta mampu menjangkau pendengar yang lebih beragam tanpa kehilangan identitasnya

Lebih dari sekedar band, Peach sering dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap maskulinitas dalam skena hardcore.

Kehadiran mereka di atas panggung merupakan bentuk klaim ruang, bahwa perempuan juga punya hak yang sama untuk tampil, bersuara, dan merasa aman di konser musik keras.

Cerita tentang ruang aman menjadi bagian penting dari perjalanan Peach.

Mereka menggambarkan gigs yang bebas dari pelecehan dan diskriminasi, isu - isu yang masih kerap muncul dalam skena punk dan hardcore.

Penulis: Kinesha Puspa Adilla

Editor : Bahana.
#peach #punk