Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengenal Rekah, Band Post‑Hardcore Jakarta yang Merangkul Kekacauan dan Emosi

Bahana. • Kamis, 8 Januari 2026 | 14:05 WIB

Band Post Hardcore: Rekah - Instagram / @_deniot
Band Post Hardcore: Rekah - Instagram / @_deniot
Rekah, band post‑hardcore Indonesia yang terbentuk pada 2014, dan dikenal sebagai salah satu suara paling ekspresif juga emosional dalam skena musik independen di tanah air.

Dengan musik yang beragam tekstur dan penuh kekacauan yang terstruktur, Rekah merangkul tema kehidupan, kecemasan, dan tekanan sosial lewat karya-karya mereka, termasuk single awal ‘Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam’, EP ‘Berbagi Kamar’, ‘Kiamat, Babak Pertama’, album penuh ‘Kiamat’, serta split EP terbaru ‘Setengah Mati’.

Dari musik hingga liriknya memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami emosi intens dan juga pergulatan psikologis yang sering tak terucapkan.

Rekah terbentuk di Jakarta, 2014. Sejak awal menggambarkan musiknya sebagai campuran post‑hardcore, blackgaze, screamo, prog, dan elemen ekstrim lainnya menghasilkan sebuah “kekacauan” yang sengaja mereka peluk sebagai cerminan kehidupan urban yang kompleks dan emosional. Rekah saat ini beranggotakan Tomo Hartono (gitar,vokal), Fachri Bayu Wicaksono (gitar, vokal), Junior Johan (drum), Yohan Christian (bass), dan Stephania Shakila (vokal).

Single Awal: Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam (2016)

Single ini dirilis pada 29 Januari 2016 sebagai salah satu rilisan awal Rekah. Lagu ini memadukan atmosfer melankolis dengan intensitas post‑hardcore, menggambarkan seorang gadis yang seolah “memakai malam” sebagai makna lain dari kesepian, kesedihan, dan refleksi batin. Lagu ini menjadi pintu masuk Rekah ke skena hardcore/screamo Indonesia.

Berbagi Kamar (2017): Menyuarakan Kecemasan dan Kekacauan Batin

Pada 2017, Rekah merilis EP Berbagi Kamar, kumpulan lagu yang berbicara tentang anxiety, kehilangan, kebencian terhadap diri sendiri, dan bagaimana menerima pergolakan batin. EP ini juga mencerminkan upaya band membuka percakapan soal pengalaman mental yang masih sering dianggap tabu di masyarakat.

Single: … and you’re still thingking there’s no such thing as “GULAG” (2018)

Lagu ini merupakan rilisan non album eksperimental yang dirilis tahun 2018. Bercerita tentang bagaimana perundungan bisa berkerak di benak para korbannya.

Dari luar mungkin mereka terlihat sehat-sehat saja, namun melongoklah ke dalam agar bisa melihat betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh tradisi yang menyebalkan ini.

Kiamat, Babak Pertama (2021)

EP ini merupakan bagian awal dari proses album Kiamat, dirilis sebagai pengantar narasi album penuh. EP ini menampilkan trek yang menekankan tekanan mental dan sosial di masyarakat. Menyajikan “2 Jam di Fatmawati”, “Panduan Menunda Kiamat”, dan “Kabar dari Dasar Botol”, EP ini mencakup banyak topik berbeda yang lebih membumi dibandingkan dengan album debut mereka, mulai dari surat cinta untuk tempat musik lokal independen di Jakarta, bagaimana bangkit dari keputusasaan di masa sulit ini, hingga alkoholisme.

Album Penuh: Kiamat (2022)

Lima tahun setelah Berbagi Kamar, Rekah merilis debut album penuh Kiamat pada 1 Mei 2022. Album ini menandai evolusi tema merekatidak hanya memusat pada pengalaman internal, tapi juga menghubungkan tekanan mental dengan kondisi sosial yang lebih luas, termasuk kerja paksa, ketidakadilan, dan ekspektasi sistemik yang membebani kehidupan anak muda.

Lagu-lagu seperti “Kereta Terakhir dari Palmerah”, “Lusa Kiamat”, “Tenang Dilarang Masuk”, hingga “Tragedi Paling Anjing”, menggambarkan pergulatan batin serta tekanan sosial.

EP Split: Setengah Mati (2024) & Single ‘Melukis Memar di Langit Ibu’ (2024)
Berkolaborasi dengan White Chorus, EP split Setengah Mati menampilkan lagu dari kedua band yang saling melengkapi tema dan emosional.

Single “Melukis Memar di Langit Ibu” menyorot kasus kekerasan terhadap perempuan melalui metafora “memar di langit ibu”.

Gaya Musik dan Pengaruhnya

Rekah terkenal dengan dinamika intens, memadukan jeritan emosional, perubahan tempo dramatis, serta elemen jazz atau post‑rock yang memberi warna berbeda di tengah genre keras seperti post‑hardcore dan screamo.

Hal ini membuat karya mereka tidak hanya keras secara musik, tetapi juga puitis dan resonan secara emosional.

Rekah berhasil membuat musik yang tidak hanya digemari karena intensitasnya, tetapi juga karena kemampuan berbicara kepada anak muda yang sering merasa tertekan oleh tuntutan hidup, baik personal maupun sistemik. Tema kesadaran mental, kritik terhadap tekanan sosial, dan usaha untuk tetap bertahan menghadapi realitas menjadikan musik mereka medium ekspresi emosional dan sosial.

Penulis: Kinesha Puspa Adilla

Editor : Bahana.
#emosi #musik #rekah #band