RADAR MALIOBORO - Sejumlah musisi dari kawasan Indonesia Timur berkumpul di Jakarta pada hari Selasa (27/1/2026) untuk membahas industri musik Indonesia Timur ke depannya.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dihelat oleh Kementerian Kebudayaan tersebut, muncul satu usulan mengenai penamaan genre dari musik Indonesia Timur yang diberi tajuk Timurnesia.
Forum tersebut melibatkan kolaborasi dari beberapa pemangku kepentingan seperti musisi, pelaku industri, hingga perwakilan pemerintah.
Adapun fokus utama pembahasan diantaranya penguatan identitas genre, perluasan akses pasar, dan keberlanjutan ekosistem musik dari wilayah tersebut.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang hadir dalam diskusi tersebut menyoroti ramainya pendengar musik Indonesia Timur.
“Banyak musik Indonesia Timur viral. Ini fenomena penting bagi arah penguatan ekosistem,” ujar Fadli Zon, dikutip dari voi.id pada Jumat (30/1/2026).
Menurut Fadli Zon, musik yang mempertahankan identitas budaya dan bahasa lokal memiliki kemampuan dalam menjangkau audiens secara global.
Sesuai amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945, pemerintah berkomitmen menjadi fasilitator bagi para musisi untuk menciptakan ruang dan ekosistem yang mendukung penguatan kebudayaan dalam skala nasional.
Sementara itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, memberikan pandangannya mengenai perubahan industri musik di era digital.
Yovie menyebutkan bahwa era digital membawa tantangan baru berupa persaingan yang jauh lebih padat dibandingkan era dominasi televisi.
Berkaca pada kondisi tersebut, Yovie memandang kesuksesan musisi Indonesia Timur dalam menaklukkan pasar digital sebagai sebuah prestasi yang layak diapresiasi.
Namun, popularitas saja dinilai belum cukup tanpa adanya penguatan identitas yang jelas.
Kekhawatiran mengenai perlindungan identitas budaya disuarakan oleh Deddy Corbuzier selaku Staf Khusus Menteri Pertahanan.
Deddy mengingatkan risiko musisi Timur yang tampil di luar negeri bisa saja diklaim oleh negara lain jika tidak memiliki penamaan genre yang paten.
Tanpa nama dan identitas yang jelas, risiko klaim dari pihak luar terhadap identitas musik Indonesia Timur akan semakin besar.
Dalam kesempatan yang sama, musisi asal Gorontalo, Ecko Show, menyoroti pertumbuhan musik Indonesia Timur yang berjalan secara organik.
Ia mengakui bahwa jenis musik yang kerap disebut sebagai lagu pesta memang paling menonjol di mata publik.
Namun, Ecko menegaskan bahwa spektrum musik Timur sejatinya sangat luas dan tidak berpusat di lagu-lagu itu saja.
Ia menilai kekayaan musikal tersebut tidak boleh disederhanakan hanya pada satu jenis saja.
Oleh karena itu, ia mendorong terbentuknya sebuah "rumah" bersama, baik dalam bentuk ekosistem maupun identitas genre yang jelas.
Hal ini penting agar keragaman warna musik dari berbagai daerah mendapatkan panggung dan perlakuan yang setara.
Aspirasi ini kemudian memantik diskusi mengenai urgensi penetapan satu nama genre yang spesifik.
Para peserta sepakat bahwa dibutuhkan identitas yang kuat agar musik Timur dapat diterima secara internasional, layaknya jenama K-pop atau hip hop yang telah mendunia.
Musisi Toton Caribo menyampaikan usulan nama genre Timurnesia.
Baca Juga: Kenali Pemicu Tersembunyi GERD yang Sering Diabaikan
Nama ini merupakan ide awal dari rekan sesama musisi, Silet Open Up, untuk menjadi payung identitas musik Indonesia Timur.
Nama Timurnesia diharapkan mampu menjadi representasi yang inklusif dan mudah dikenali baik di kancah nasional maupun global.
Usulan ini menjadi langkah awal dalam penyusunan cetak biru musik Indonesia Timur yang berdaya saing industri. (Aqbil Faza Maulana)
Editor : Meitika Candra Lantiva