Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Italian Bed” Ritme Getar, Etos DIY, dan Perjalanannya Sebagai Salah Satu Band Hardcore Punk dari Jogja

Bahana. • Senin, 2 Februari 2026 | 11:54 WIB

Italian Bed - Sumber: Instagram / @jrnyrecords
Italian Bed - Sumber: Instagram / @jrnyrecords
Di tengah banyaknya genre di Yogyakarta yang hidup dari ruang-ruang kecil dan jaringan kolektif, Italian Bed tumbuh sebagai salah satu nama hardcore punk yang konsisten bergerak tanpa banyak gimik.

Lewat musik cepat, lirik lugas, dan jalur Do-It-Yourself (DIY), band ini perlahan membuat jejak bukan hanya di Jogja, tetapi juga lintas kota hingga luar negeri. Italian Bed sendiri digawangi oleh Moo (vokal), Uyo (gitar), Joo (gitar), Primo (bass), Afrido (drum).

EP debut mereka, Entertainment Buzz (Actually Not), menjadi pintu masuk utama untuk memahami karakter Italian Bed. Tujuh lagu ini berdurasi singkat yang disajikan dengan tempo cepat, gitar tajam, dan vokal yang terdengar seperti teriakan dari ruang sempit serta musiknya yang agresif seperti ciri khas hardcore punk.

New Noise Magazine menempatkan Italian Bed sebagai band yang mengandalkan energi spontan dari musik punk rock jadul yang cepat dan kasar, bukan teknis rumit. Hal ini membuat musik mereka dekat dengan akar punk itu sendiri.

Selain EP debut, Italian Bed mempunyai beberapa karya, 3 Track Promo, Entertainment Buzz (Actually Not) sebagai EP debut, S/T dengan 5 track, dan FMC In A Room Sessions.

Meski berjalan DIY, Italian Bed terhubung dengan jaringan label underground lintas negara seperti Tenant Recordings (Amerika Serikat) yang menjadi co-release EP debut mereka untuk pasar internasional. Keterlibatan Tenant menandai masuknya Italian Bed ke jaringan hardcore punk global.

Mereka juga sudah menjalani tur lintas kota di Indonesia hingga Asia Tenggara melalui rangkaian Violation of Usage Policies Tour, menyambangi Bandung, Medan, Pekanbaru, Palembang, Malaysia, hingga Singapura. Dalam wawancara dengan Garak.id, salah satu personel Italian Bed menggambarkan pengalaman tur mereka dengan nada santai namun jujur:

“Kita lebih sering tur daripada main di luar tur, dan jarang main di Jogja juga. Ya karena gak laku! Karena kalo tur, kami berlima pasti ketemu berhari-hari. Cuma itu yang kami pengen, dan enaknya di situ. Menurutku ya, kita ngelakuinnya tuh kayak kamu mau ke pantai seneng-seneng gitu. Kayak ketemu berlima, bercanda inilah-itulah.” ujar Primo.

Hal ini menggambarkan bagaimana tur bagi Italian Bed bukan sekadar kewajiban promosi, melainkan bagian dari kehidupan band itu sendiri.

Italian Bed juga menyuarakan refleksi sosial. Dalam wawancara yang sama, mereka menyinggung soal seniority complex, budaya “abang-abangan” yang kerap menciptakan gap antara generasi. Italian Bed menjadikan pengalaman tersebut sebagai refleksi personal yang dituangkan ke dalam lirik dan sikap bermusik.

Italian Bed bukan pusat dari hardcore punk Jogja, tetapi salah satu simpul pentingnya. Mereka bergerak bersama venue kecil, kolektif, promotor independen, dan penonton yang setia. Hadirnya Italian Bed mencerminkan bagaimana hardcore punk tetap hidup, bukan karena sorotan yang besar, tetapi karena komunitas.

Seperti yang ditulis Consumed Magazine, Italian Bed merepresentasikan band yang lahir dari ruang sehari-hari, dari warung, jalanan, hingga panggung kecil dan membawa pengalaman itu apa adanya ke dalam musik mereka.

Penulis: Kinesha Puspa Adilla

Editor : Bahana.
#punk