RADAR MALIOBORO - Teknik musik di dunia sangat beragam dan mencerminkan kekayaan budaya setiap wilayah. Salah satu yang unik dan punya sejarah panjang adalah Yodelling. Teknik vocal khas pegunungan yang kini diakui UNESCO.
Apa itu Yodelling?
Kata “yodel” berasal dari bahasa Jerman “jodeln”, yang artinya mengucapkan suku kata “jo”. Teknik ini lahir dari wilayah pegunungan Alpen, terutama di Swiss, Austria, dan Jerman, sebagai cara penggembala sapi berkomunikasi, untuk memanggil kawanan ternak atau berkomunikasi antar desa.
Secara teknis, yodel adalah teknik vokal yang melibatkan perpindahan cepat suara dada (chest voice) dan suara kepala (falsetto) untuk menciptakan melodi dengan suku kata tanpa makna sebagai pengganti kata-kata. Sehingga menciptakan ciri khas bunyi yang mudah dikenali.
Yodel bisa dibawakan secara solo, berkelompok, ataupun paduan suara, terkadang diiringi instrumen seperti akordeon.
Jenis Yodelling
Yodelling terbagi menjadi dua, yakni yodel alami dan yodel nyanyi.
Yodel alami terdiri dari melodi tanpa kata yang bervariasi menurut wilayah dan dialek yang diturunkan secara lisan. Sementara yodel nyanyi mencakup bait dengan paduan suara yodel, yang sering berpusat pada tema-tema seperti alam dan kehidupan sehari-hari.
Yodelling Populer
Yodelling mulai dikenal luas dan dipopulerkan pada tahun 1830-an. Perubahan nada yang cepat antara suara normal dan falsetto menjadi ciri khas yodel.
Di Swiss, yodel telah lama menjadi bagian dari tradisi budaya. Sebagai salah satu negara asal yodelling, Swiss memiliki banyak acara dan festival yang didedikasikan khusus untuk seni vokal ini, termasuk berbagai pertunjukan dan kompetisi yang menampilkan yodeler kelas dunia.
Masuk Dalam Warisan Takbenda UNESCO
Pada Desember 2025, yodel secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, setelah sebelumnya diusulkan oleh pemerintah Swiss.
(Nabila Kurnia Ekahapsari)
Sumber: UNESCO & I AM EXPAT
Editor : Iwa Ikhwanudin