RADAR MALIOBORO - K-Pop atau Korean Pop sering diposisikan sebagai simbol budaya Korea Selatan yang khas dan berbeda dari musik Barat.
Namun, jika dilihat dari proses sejarah dan perkembangannya, K-Pop justru lahir dari percampuran berbagai pengaruh global.
Musik ini tumbuh bukan hanya dari tradisi lokal Korea, tetapi juga dari budaya populer Barat yang sudah lama masuk dan membentuk selera masyarakat Korea.
Karena itu, K-Pop tidak bisa dipahami sebagai budaya yang sepenuhnya asli atau murni.
Berdasarkan artikel jurnal “K-pop and Cultural Appropriation: Influences from the West and Within South Korean Society” oleh Celine Hong, Harrison Cho, dan Diana Kinney (2022), perhatian dunia terhadap Korea Selatan awalnya sangat terbatas.
Negara ini lebih sering dibahas dalam konteks konflik dengan Korea Utara dan kemajuan teknologinya.
Baru sekitar satu dekade terakhir, Korea Selatan mulai dikenal luas lewat musik dan fashion, terutama melalui K-Pop.
Industri yang sebelumnya nyaris tidak terlihat ini berkembang pesat menjadi industri bernilai miliaran dolar dan berhasil menempatkan idol K-Pop sebagai wajah global berbagai merek mewah Barat.
Industri K-Pop mengalami lonjakan besar sejak akhir 2000-an dan berkembang menjadi industri berskala global.
Grup seperti BTS, BLACKPINK, dan EXO tidak hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga menjadi ikon global yang melekat dengan merek-merek mewah Barat seperti Prada, Chanel, dan Gucci.
Hal ini menunjukkan bahwa K-Pop sejak awal diarahkan untuk beroperasi di pasar internasional.
Adapun dua faktor utama yang mendorong pesatnya perkembangan K-Pop, yaitu pengaruh budaya Amerika dan dukungan kuat dari pemerintah Korea Selatan.
Pemerintah secara sadar menjadikan industri budaya sebagai strategi pemulihan ekonomi pasca-krisis, sehingga K-Pop dirancang agar sesuai dengan secara global, khususnya selera Barat.
Pengaruh Barat di Korea Selatan sebenarnya sudah muncul sejak lama.
Setelah Perang Korea berakhir pada tahun 1953, masyarakat Korea Selatan hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit dan sangat bergantung pada budaya impor.
Musik, film, dan televisi dari Amerika Serikat menjadi konsumsi populer masyarakat Korea pada masa itu.
Berdasarkan kondisi tersebut, selera musik masyarakat Korea secara perlahan terbentuk melalui konsumsi budaya Barat.
Lagu-lagu rakyat Barat dan musik Natal Amerika bahkan masih sering muncul dalam media Korea hingga saat ini.
Hal ini menunjukkan bahwa fondasi budaya populer Korea, termasuk K-Pop, sudah lama dipengaruhi oleh budaya Barat.
Kemunculan grup Seo Taiji and The Boys menjadi titik penting dalam sejarah K-Pop.
Grup ini secara jelas mengadaptasi hip-hop Amerika, baik dari segi penggunaan rap, struktur musik, maupun gaya berpakaian.
Keberhasilan mereka membuka jalan bagi sistem idol K-Pop yang kemudian berkembang pesat.
Menurut sudut pandang teori dominasi budaya, adopsi budaya Barat oleh K-Pop tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa global.
Budaya Barat, khususnya Amerika Serikat, berada pada posisi dominan dalam industri hiburan dunia.
Ketika Korea Selatan ingin menembus pasar global, standar Barat menjadi acuan utama.
Pengaruh Barat dalam K-Pop juga tidak hanya terlihat pada musik, tetapi juga pada nilai dan estetika yang diusung.
Dalam proses ini, K-Pop secara tidak langsung mereproduksi cara pandang Barat, termasuk stereotip terhadap kelompok budaya tertentu.
Hal inilah yang kemudian memicu kritik terhadap praktik pemakaian unsur budaya lain dalam industri K-Pop.
K-Pop kerap dikritik karena menggunakan elemen budaya dari komunitas marginal, terutama budaya Afrika-Amerika, seperti hip-hop, gaya rambut, busana, dan bahasa.
Elemen-elemen tersebut sering kali digunakan sebagai gaya visual atau konsep tanpa memahami konteks sejarah dan makna budayanya.
Di sisi lain, penerimaan K-Pop di Barat menunjukkan bagaimana pengaruh budaya juga bergerak dari Timur ke Barat.
Malansir entertainmentpost.com, K-Pop mulai mendapat perhatian besar di Barat sejak kesuksesan “Gangnam Style” pada 2012, yang membuka jalan bagi artis K-Pop lain untuk masuk ke pasar internasional.
BTS juga menjadi salah satu aktor utama dalam memperkuat posisi K-Pop di Barat.
Kehadiran mereka di tangga lagu internasional, acara televisi, dan penghargaan musik Barat membuat K-Pop semakin diterima sebagai bagian dari industri musik global.
K-Pop membawa dampak budaya yang signifikan di Barat.
Gaya berpakaian, tata rias, dan konsep visual idol K-Pop banyak ditiru oleh penggemar internasional.
Selain itu, K-Pop mendorong minat terhadap bahasa Korea, makanan Korea, dan budaya Korea secara lebih luas.
Namun, globalisasi K-Pop juga memicu kekhawatiran tentang hilangnya identitas budaya.
Melansir otakukart.com, penggunaan bahasa Inggris yang semakin dominan dalam lagu K-Pop membuat sebagian penggemar merasa bahwa unsur budaya Korea mulai tersisih demi pasar global.
Perubahan genre musik K-Pop yang semakin mengikuti tren Barat seperti hip-hop, trap, dan EDM juga dinilai membuat K-Pop terdengar semakin mirip dengan musik pop Barat.
Hal ini memunculkan perdebatan tentang apakah K-Pop masih memiliki ciri khasnya sendiri.
Meski demikian, perubahan ini bisa dilihat sebagai proses adaptasi alami.
K-Pop sejak awal memang dibangun dari percampuran budaya, sehingga kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan tren global justru menjadi salah satu kekuatannya.
Tantangan ke depan bagi K-Pop adalah menjaga keseimbangan antara keterbukaan global dan kesadaran budaya. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva