Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Nada Perlawanan dalam Musik Indonesia: Deretan Lagu Kritik Pemerintah dari Iwan Fals hingga Sukatani

Magang Radar Jogja • Kamis, 12 Februari 2026 | 13:58 WIB
Band Sukatani Saat Manggung.  (sumber: Instagram @sukatani.band)
Band Sukatani Saat Manggung. (sumber: Instagram @sukatani.band)

Musik tak selalu hadir sekadar sebagai hiburan. Di tangan sejumlah musisi Indonesia, lagu justru menjelma menjadi medium kritik, perlawanan, dan suara kegelisahan rakyat.

Dari era Iwan Fals dengan Surat Buat Wakil Rakyat, Efek Rumah Kaca lewat Mosi Tidak Percaya, hingga band punk Sukatani dengan Bayar, Bayar, Bayar, deretan lagu ini merekam keberanian musisi menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan ketidakadilan kerap membungkam suara publik.


1. Iwan Fals - Surat Buat Wakil Rakyat

Membahas lagu-lagu kritik terhadap pemerintah rasanya tak lengkap tanpa menyebut musisi legendaris Iwan Fals. Pria bernama asli Virgiawan Listanto ini dikenal memiliki sejumlah karya musik nya yang secara terang-terangan mengkritik pemerintah.

Salah satu lagunya yang terkenal adalah “Surat Buat Wakil Rakyat” yang secara gamblang ditujukan kepada para anggota legislatif yang berkantor di Gedung DPR.

Melalui liriknya, Iwan Fals menyoroti perilaku wakil rakyat saat menjalankan tugas, mulai dari kebiasaan tertidur saat sidang hingga sikap yang dinilai kurang vokal dalam membela kepentingan masyarakat. Lantaran isi liriknya yang frontal, lagu tersebut sempat dicekal penayangannya di televisi dan media massa karena dianggap berpotensi mengganggu stabilitas politik.

2. Efek Rumah Kaca - Mosi Tidak Percaya

Band yang berdiri pada 2001 ini secara konsisten menjadikan musik sebagai ruang perlawanan. ERK memanfaatkan lagu sebagai alat perjuangan, melalui lirik-liriknya sebagai medium untuk menyuarakan aspirasi yang kerap terpinggirkan dan dibungkam.

Album perdana mereka yang dirilis pada 2007 langsung mencuri perhatian lewat lagu “Di Udara”, yang mengangkat kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.

Sementara itu, lagu “Mosi Tidak Percaya” berisi seruan penolakan terhadap pemerintah, menggambarkan kekecewaan atas pemimpin yang ingkar janji, gemar berbohong, dan tak berpihak kepada rakyat. Sejak dirilis pada 2008 sebagai bagian dari album Kamar Gelap, lagu “Mosi Tidak Percaya” kerap menjadi lantunan dalam berbagai aksi demonstrasi.

3. Feast - Peradaban

Feast merupakan grup musik beraliran Rock beranggotakan Baskara Putra, Adnan Satyanugraha Putra, Dicky Renanda Putra, Fadli Fikriawan Wibowo, dan Adrianus Aristo Haryo.

Grup Band Feast ini terbentuk awalnya dari sekumpulan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Indonesia.


Feast dikenal sebagai grup musik yang berani bersuara lantang soal isu sosial. Di tengah maraknya pembungkaman terhadap suara rakyat, “Peradaban” hadir sebagai wadah yang memberi bentuk pada kegelisahan dan keresahan sosial.

Melalui lagu “Peradaban” feast merangkum rasa marah sekaligus tekad untuk bertahan. Ketika musik lain sibuk berbicara soal cinta, lagu ini mengajak pendengarnya untuk berpikir tentang bangsa dan nasib rakyatnya.

Baca Juga: Perbukitan Menoreh, Pesawat, dan Pemandangan Pantai Selatan, Jadi Daya Tarik Utama Berbuka di Novotel & Ibis YIA Kulon Progo
4. Sukatani - Bayar, bayar,bayar

Band punk asal Purbalingga, Jawa Tengah yang memiliki ciri khas menggunakan topeng saat manggung sempat mencuri perhatian publik setelah merilis lagu “Bayar, Bayar, Bayar” pada Juli 2024, yang menjadi bagian dari album Gelap Gempita.

Melalui lagu ini Sukatani melontarkan kritik terhadap praktik pungutan liar yang dilakukan oknum kepolisian dalam pelayanan kepada masyarakat.

Lagu “Bayar Bayar Bayar” milik band Sukatani sempat ditarik dari seluruh platform streaming musik karena dianggap mengandung kritik terhadap institusi kepolisian.

Lagu ini secara lugas mengangkat isu korupsi dan pungutan liar, sekaligus menegaskan posisi Sukatani sebagai suara kritik dalam lanskap musik Indonesia. Tak hanya itu, kedua personelnya bahkan disinyalir dipaksa untuk meminta maaf kepada Polri atas lagu tersebut.

Baca Juga: Jelang Ramadhan, Pendaftaran Mudik dan Balik Bareng Honda Dibuka untuk Ribuan Pemudik
5. Slank – Gosip Jalanan

Lagu “Gosip Jalanan” memuat kritik tajam yang diarahkan kepada DPR, khususnya menyangkut sikap dan kebijakan mereka dalam menangani persoalan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat.

Dalam penggalan liriknya, “Mau tau gak mafia di senayan, Kerjanya tukang buat peraturan,
Bikin UUD ujung-ujungnya duit” Slank secara terang-terangan menyinggung praktik pembuatan aturan yang pada akhirnya bermuara pada kepentingan uang.

Sindiran tersebut sempat memicu reaksi keras dari kalangan DPR yang merasa terusik oleh isi lagu itu.

Pada 2008, Badan Kehormatan DPR bahkan menggelar evaluasi untuk menanggapi lagu “Gosip Jalanan”. Saat itu, DPR berdalih langkah tersebut diambil sebagai upaya menindak ungkapan yang dinilai merugikan atau menjatuhkan pihak tertentu

Editor : Bahana.
#iwan fals #Sukatani #musik indonesia