Selalu Candu di Telinga: Mengapa Karya-Karya LANY Selalu Punya Tempat di Hati Pendengar?

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:39 WIB
LANY—grup musik asal Los Angeles
LANY—grup musik asal Los Angeles

Jika Anda pernah mendengarkan lagu seperti "ILYSB", "Malibu Nights", atau "Mean It", kemungkinan besar nada synth-pop yang melankolis namun catchy tersebut akan terus terngiang di kepala.

LANY—grup musik asal Los Angeles yang digawangi oleh Paul Jason Klein dan Jake Clifford Goss—telah menjadi salah satu musik paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, LANY memiliki basis penggemar yang sangat masif. Tiket konser mereka kerap ludes hanya dalam hitungan menit.

Namun, apa sebenarnya rahasia di balik daya pikat LANY yang membuat lagu-lagunya begitu digandrungi?

Banyak pendengar awal menyangka nama "LANY" adalah sebuah kata acak. Nyatanya, LANY merupakan singkatan dari dua kota besar di Amerika Serikat yaitu LA (Los Angeles) dan NY (New York).

Singkatan ini dilafalkan sebagai "Lay-Nee". Alasan di balik pemilihan nama ini sangat sederhana namun visioner para personelnya bermimpi agar musik mereka dapat menyebar dari Pantai Barat (Los Angeles) hingga Pantai Timur (New York) Amerika Serikat, sebelum akhirnya menaklukkan panggung internasional.

Baca Juga: DPRD Kota Jogja Dorong Bahasa Jawa Krama Wajib di Sekolah, Siapkan Buku Saku untuk Siswa

Sebelum mengisi stadion-stadion besar di berbagai negara, LANY memulai langkah mereka dari tempat yang sangat sederhana. Pada tahun 2014, mereka merekam lagu-lagu pertama mereka di sebuah apartemen kecil di Nashville menggunakan perangkat komputer seadanya.

Dua lagu pertama mereka, "Hot Lights" dan "Walk Away", diunggah ke platform SoundCloud tanpa ekspektasi tinggi. Tanpa bantuan label rekaman besar atau strategi pemasaran yang rumit, lagu-lagu tersebut menyebar secara organik berkat kekuatan melodi dan aransemen yang unik. Pendekatan independen ini membentuk karakter musik LANY yang terasa autentik sejak awal.

Salah satu alasan utama mengapa pendengar merasa sangat terikat dengan LANY adalah penulisan liriknya. Paul Klein, sang vokalis utama, dikenal sangat terbuka saat menuangkan perasaan pribadi ke dalam lagu.

Lirik lagu LANY tidak ragu mengeksplorasi fase-fase paling rapuh dalam hubungan manusia. Kasih sayang yang manis dan santai tergambar jelas dalam "ILYSB" atau "13". Rasa sakit akibat patah hati dan kehilangan tertuang mendalam dalam album Malibu Nights yang ditulis setelah perpisahan emosional yang dialami Paul.

Kemampuan mengubah pengalaman patah hati menjadi lirik yang jujur membuat pendengar merasa dipahami. Bagi banyak orang, mendengarkan lagu LANY terasa seperti membaca diari pribadi tentang kisah cinta mereka sendiri.

LANY tidak hanya menjual musik, mereka memadukan unsur indie pop, synth-pop era 80-an, dan sentuhan R&B modern yang menciptakan nuansa dreamy serta nostalgia.

LANY dikenal memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap para pengagumnya. Di panggung konser, Paul Klein selalu tampil penuh energi, sering kali turun mendekati barisan penonton, mengambil ponsel penggemar untuk berswafoto, hingga mengenakan pakaian yang diberikan oleh penonton.

Baca Juga: Sayur Lodeh dan Filosofi Pitu: Tradisi Jawa Merawat Harapan di Tengah Krisis

Interaksi yang hangat ini menciptakan rasa kebersamaan yang nyata. Menghadiri konser LANY bukan sekadar menonton pertunjukan musik biasa, melainkan sebuah pengalaman katarsis bersama di mana ribuan orang menyanyikan lirik patah hati dengan penuh penghayatan.

LANY mengerti bahwa kombinasi antara kejujuran lirik, estetika musik yang kuat, dan hubungan yang tulus dengan penggemar adalah resep utama dalam menciptakan karya yang bertahan lama.

Musik mereka menjadi soundtrack bagi perjalanan cinta, rasa kehilangan, dan proses pendewasaan banyak anak muda di seluruh dunia.



Editor : Bahana.
musik LANY