Nasida Ria, Qasidah Modern Semarang yang Menembus Batas Generasi hingga Panggung Dunia

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:49 WIB
Nasida Ria
Nasida Ria

Musik qasidah identik dengan lantunan bernuansa religi. Namun, Nasida Ria membuktikan bahwa genre tersebut dapat berkembang menjadi musik yang modern, komunikatif, sekaligus mampu membicarakan berbagai persoalan kehidupan.

Kelompok musik asal Semarang, Jawa Tengah, ini didirikan pada 1975 oleh K.H. Mudrikah Zain. Berawal dari kelompok pengajian perempuan yang mempelajari alat musik rebana, Nasida Ria kemudian tumbuh menjadi salah satu kelompok qasidah modern paling dikenal di Indonesia.

Seluruh personelnya perempuan. Sejak awal kemunculannya, Nasida Ria menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan kelompok qasidah pada umumnya.

Mereka memadukan nuansa musik Timur Tengah dan Melayu dengan sejumlah instrumen modern, seperti gitar listrik, bas, drum, hingga kibor sintetis. Perpaduan tersebut melahirkan warna musik yang relatif baru pada masanya dan membuat qasidah lebih mudah diterima oleh pendengar dari berbagai kalangan.

Lirik Tajam, Kritik Sosial hingga Isu Dunia

Baca Juga: Lagu “Terrified” Katharine McPhee Kembali Viral, Kisah Cinta Penuh Takut dan Harapan Jadi Sorotan

Salah satu kekuatan terbesar Nasida Ria terletak pada lirik lagu. Pesan yang dibawa tidak berhenti pada nasihat keagamaan, tetapi turut menyentuh berbagai persoalan sosial dan isu global.

Sejumlah lagu seperti “Perdamaian”, “Bila Bom Pemungkas Meledak”, “Kota Santri”, hingga “Tahun 2000” mengangkat tema yang cukup berani untuk zamannya.

Lagu-lagu tersebut berbicara mengenai perdamaian, kehidupan sosial, ancaman peperangan dan senjata nuklir, perkembangan teknologi, hingga gambaran masa depan.

Menariknya, tema-tema serius itu tidak disampaikan melalui musik yang berat. Nasida Ria justru mengemasnya dengan aransemen yang ceria, mudah diingat, dan komunikatif.

Cara tersebut membuat pesan dalam lagu lebih mudah diterima. Pendengar tidak hanya menikmati musik, tetapi juga diajak memikirkan persoalan yang disampaikan melalui lirik.

Identitas Visual yang Kuat

Popularitas Nasida Ria juga tidak dapat dilepaskan dari karakter panggung mereka. Kostum berwarna-warni dan penampilan yang enerjik menjadi bagian dari identitas kelompok tersebut.

Kekuatan visual itu membuat Nasida Ria tidak hanya hadir sebagai kelompok musik religi, tetapi juga sebagai sebuah pertunjukan yang memiliki karakter tersendiri.

Di tengah perubahan zaman, kelompok ini juga mampu mempertahankan eksistensinya melalui regenerasi personel. Perjalanan panjang dari era kaset hingga masuk ke ekosistem digital membuat karya-karya Nasida Ria tetap dapat ditemukan dan dinikmati oleh generasi yang berbeda.

Kemampuan beradaptasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa lagu-lagu mereka tidak sepenuhnya terjebak sebagai nostalgia masa lalu.

Dari Semarang hingga Panggung Internasional

Baca Juga: FIA Cabut Pembatasan Rusia dan Belarus, Bendera serta Lagu Kebangsaan Kembali Diizinkan

Keunikan Nasida Ria akhirnya membawa kelompok tersebut melampaui panggung nasional. Musik yang berangkat dari tradisi qasidah tersebut mendapat perhatian di luar Indonesia.

Nasida Ria tercatat pernah tampil di sejumlah negara Eropa. Salah satu penampilan yang mendapat sorotan adalah ketika mereka menjadi bagian dari Documenta Fifteen di Kassel, Jerman.

Kehadiran mereka dalam ajang seni internasional tersebut memperlihatkan bahwa musik berbasis tradisi lokal dapat memiliki ruang di panggung global.

Nasida Ria menunjukkan bahwa identitas lokal tidak selalu menjadi batas. Justru melalui perpaduan musik modern, pesan sosial yang universal, serta karakter pertunjukan yang kuat, qasidah dapat berkomunikasi dengan pendengar dari latar belakang yang berbeda.

Qasidah yang Terus Hidup di Era Digital

Hampir lima dekade setelah didirikan, perjalanan Nasida Ria menjadi gambaran bagaimana musik tradisional dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitas.

Mereka mempertahankan akar qasidah, tetapi terbuka terhadap perkembangan musik dan teknologi. Pesan mengenai perdamaian, kehidupan sosial, dan masa depan pun tetap memiliki relevansi di tengah persoalan dunia yang terus berubah.

Dari kelompok pengajian perempuan di Semarang, Nasida Ria berkembang menjadi fenomena lintas generasi yang mempertemukan musik religi, kritik sosial, budaya populer, hingga panggung internasional.

Editor : Bahana.
Nasida Ria Qasidah Modern Musik Semarang Musik Religi Documenta Fifteen